Donasi dan Relawan Hadir, MTsN 1 Aceh Timur Masih Butuh Alat Berat untuk Pemulihan
MTsN 1 Aceh Timur terus menerima dukungan dari berbagai pihak pascabanjir yang melanda Kecamatan Simpang Ulim dan sekitarnya. Pada hari ini, madrasah menerima sumbangan dari para relawan berupa Al-Qur’an, pakaian, perlengkapan ibadah, serta berbagai kebutuhan lainnya yang diperuntukkan bagi siswa dan warga sekolah terdampak bencana.

Sebelumnya, tulisan berjudul “Banjir Telah Surut, Masa Depan Anak-anak Jangan” yang memotret kondisi siswa dan madrasah pascabanjir telah mengetuk empati banyak pihak. Respons masyarakat tidak hanya datang dalam bentuk barang, tetapi juga donasi berupa uang yang disalurkan langsung ke rekening MTsN 1 Aceh Timur untuk membantu pemulihan sekolah serta meringankan beban siswa yang terdampak.
Dukungan besar juga datang dari Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui pelaksanaan Aksi Bakti Sosial Pascabanjir yang digelar pada Selasa, 6 Januari 2026. Sebanyak 150 relawan dari berbagai unsur Kementerian Agama dikerahkan untuk membantu membersihkan dan memulihkan lingkungan madrasah yang sebelumnya terendam banjir. Aksi ini menjadi titik penting percepatan pemulihan MTsN 1 Aceh Timur agar dapat kembali menjalankan aktivitas pendidikan (baca disini).
Kepala MTsN 1 Aceh Timur, Drs. Saifullah MN, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dukungan yang terus mengalir. Ia berharap kepedulian para relawan dan masyarakat tidak berhenti sampai di sini.
“Kami masih sangat membutuhkan bantuan, terutama alat berat untuk membersihkan perkarangan sekolah. Sebelumnya, sekolah telah menyewa alat berat selama tiga hari, namun belum mampu membersihkan seluruh area terdampak,” ujarnya.
Selain itu, Saifullah juga berharap donasi untuk siswa-siswi yang terdampak banjir terus berlanjut, mengingat banyak dari mereka kehilangan perlengkapan sekolah dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang ikut terdampak bencana.

Saat ini, kondisi madrasah mulai berangsur membaik. Ruang-ruang kelas sudah dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, hasil dari kerja sama guru, siswa, dan para relawan. Namun demikian, tantangan masih besar. Banyak meja dan kursi belajar mengalami kerusakan, sehingga pihak sekolah terus berupaya melakukan perbaikan secara bertahap di tengah keterbatasan sarana dan dana.
Saifullah juga menegaskan bahwa pemulihan fisik sekolah harus berjalan seiring dengan pemulihan masa depan peserta didik. Kepedulian dan partisipasi berbagai pihak menjadi harapan utama agar anak-anak Simpang Ulim dapat kembali belajar dengan layak dan tidak kehilangan masa depan mereka akibat bencana.
