Prolog – Healing dari Langit

Hujan yang Kembali Mengingatkan

Bulan-bulan penghujan selalu memiliki cara sendiri untuk mengubah suasana.

Langit yang biasanya terang mulai lebih sering kelabu. Jalan yang kemarin kering berubah basah. Jemuran harus lebih lama menunggu matahari, perjalanan kadang tertunda, dan secangkir kopi terasa lebih nikmat ketika hujan mengetuk atap tanpa henti.

Kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Hujan datang, lalu berhenti. Besok mungkin turun lagi. Begitulah musim penghujan berjalan dari tahun ke tahun.

Tetapi setelah mengalami sebuah bencana, hujan tidak lagi sesederhana itu.

Ada suara air yang membuat kita berhenti sejenak. Ada langit yang terlalu lama mendung yang mulai membuat kita berpikir. Ada genangan kecil yang dulu tidak pernah diperhatikan, tetapi kini terasa seperti sesuatu yang perlu dilihat lebih lama.

Saya pernah mengalaminya.

Sekitar sepuluh bulan yang lalu, ketika musim penghujan juga sedang berlangsung, saya tidak pernah menyangka bahwa beberapa hari yang diawali oleh hujan akan menjadi bagian dari sebuah cerita yang terus saya ingat sampai hari ini.

Saat itu, saya hanya menjalani hari seperti biasa.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada seorang sahabat yang sedang berjuang dalam sebuah kesempatan yang penting baginya. Ada rencana perjalanan yang sejak awal terdengar sederhana, tetapi berkali-kali tertunda.

Sahabat saya, Pak Zefiar, bahkan sudah beberapa kali merencanakan perjalanan ke Gunung Geurutee.

Namun, seperti banyak rencana manusia lainnya, selalu ada saja yang membuatnya belum terlaksana.

Ketika itu, hujan kembali turun.

Rintik-rintik.

Tidak deras, tetapi cukup untuk membuat sebuah rencana kembali dipertimbangkan. Dan saya belum tahu bahwa hujan yang saat itu hanya saya anggap sebagai penghalang perjalanan, kelak akan memiliki arti yang berbeda bagi saya.

Mungkin memang begitulah manusia.

Kita sering baru memahami arti sebuah kejadian setelah semuanya berlalu.

Pada saat menjalaninya, kita hanya melihat satu per satu peristiwa kecil: seorang teman yang membutuhkan bantuan, seseorang yang bersedia meluangkan waktu, pekerjaan yang harus diselesaikan bersama, perjalanan yang harus dipikirkan kembali, dan hujan yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Kita tidak pernah tahu mana dari semua itu yang kelak akan menjadi bagian paling berharga dari sebuah cerita.

Yang kita tahu hanyalah bahwa kita sedang menjalaninya.

Dan di antara hari-hari yang basah itu, saya bersama beberapa orang yang kemudian memiliki tempat tersendiri dalam ingatan saya, menjalani sebuah perjalanan yang awalnya tidak pernah kami bayangkan akan meninggalkan pelajaran sebesar ini.

Pelajaran tentang manusia.

Tentang kepedulian.

Tentang bagaimana seseorang bisa hadir ketika kita membutuhkan bantuan, bahkan ketika bantuan itu terlihat sederhana.

Dan tentang bagaimana sebuah bencana pada akhirnya bukan hanya mengajarkan kita untuk menyelamatkan diri, tetapi juga mengingatkan bahwa dalam keadaan apa pun, kebaikan orang lain adalah sesuatu yang tidak boleh kita lupakan.

Saat itu kami belum mengetahui apa yang akan terjadi.

Kami hanya tahu hujan masih turun.

Dan sebuah perjalanan masih menunggu untuk dimulai.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *