Jejak yang Tertinggal – Part III

Suatu ketika saya mengajukan permohonan mutasi.

Alasannya sederhana.

Saya merasa sudah waktunya berkumpul dengan keluarga, pulang dan mengabdi ke kampung halaman. Pada saat yang hampir bersamaan, beberapa rekan juga mengajukan hal yang sama.

Sebagian memperoleh persetujuan.

Saya tidak.

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada perdebatan.

Hanya sebuah keputusan yang harus saya terima.

Saya berusaha terlihat biasa saja.

Tetapi di dalam hati, saya sedang berperang dengan diri sendiri.

Saya bertanya-tanya mengapa saya yang harus tetap tinggal.

Apakah kemampuan saya belum dianggap cukup?

Apakah saya memang tidak layak?

Atau adakah pertimbangan lain yang tidak pernah saya ketahui?

Pertanyaan-pertanyaan itu menemani hari-hari saya dalam waktu yang tidak singkat.

Jika mengingat masa itu, saya sering tersenyum sendiri.

Ternyata manusia memang pandai menafsirkan sebuah keputusan hanya dari sudut pandangnya sendiri.

Saat itu saya hanya melihat satu orang.

Diri saya.

Saya lupa bahwa seorang kepala madrasah tidak sedang memikirkan satu guru.

Di hadapannya ada puluhan guru dengan kebutuhan yang berbeda.

Ada ratusan peserta didik yang harus tetap memperoleh pelayanan terbaik.

Ada program-program yang harus terus berjalan.

Dan ada lembaga yang tidak boleh kehilangan arah hanya karena satu orang ingin melangkah ke tempat lain.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa keputusan beliau pasti benar.

Saya juga tidak mengatakan bahwa perasaan kecewa saya saat itu keliru.

Keduanya nyata.

Keduanya benar menurut sudut pandang masing-masing.

Yang berubah hanyalah cara saya melihatnya.

Beberapa waktu kemudian, kesempatan kedua untuk mengajukan mutasi datang.

Kali ini, saya tidak lagi datang dengan perasaan yang sama, saya tidak lagi berharap banyak.

Dan yang paling tidak saya duga adalah sikap beliau.

Orang yang dahulu menolak permohonan saya justru menjadi orang yang membantu mencarikan jalan agar proses itu dapat berjalan dengan baik.

Beliau memberi dukungan.

Beliau membuka komunikasi.

Beliau membantu ketika bantuan itu benar-benar saya perlukan.

Saya tidak pernah bertanya mengapa kali ini beliau bersikap berbeda.

Barangkali karena saya sadar, tidak semua jawaban harus dicari dalam bentuk penjelasan.

Sebagian jawaban hadir dalam bentuk tindakan.

Dari situlah saya belajar bahwa seorang pemimpin terkadang harus mengambil keputusan yang tidak menyenangkan bagi orang yang dipimpinnya.

Bukan karena ia tidak peduli.

Melainkan karena pada saat itu ia sedang memikul tanggung jawab yang tidak sepenuhnya dapat ia ceritakan.

Pengalaman itu mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati ketika menilai seseorang.

Kita sering mengira telah mengetahui seluruh isi buku hanya karena membaca satu bab.

Padahal hidup selalu menyimpan halaman-halaman berikutnya.

Dan sering kali, justru halaman terakhir yang membuat kita memahami seluruh cerita.

Perlahan saya juga mulai melihat perubahan yang terjadi di sekitar saya.

Guru-guru yang dahulu lebih sering menunggu arahan kini mulai berani mengajukan gagasan.

Mereka tidak lagi merasa bahwa usia, masa kerja, atau jabatan menjadi batas untuk menyampaikan pendapat.

Ruang diskusi menjadi lebih hidup.

Program-program baru terus bermunculan.

Ada rasa percaya diri yang tumbuh, bukan karena semua orang menjadi sempurna, tetapi karena mereka merasa diberi ruang untuk belajar dan dipercaya untuk mencoba.

Saya menyadari bahwa warisan seorang pemimpin tidak selalu tampak pada saat ia masih menjabat.

Warisan itu baru benar-benar terlihat ketika orang-orang yang dipimpinnya mulai berjalan dengan keyakinannya sendiri.

Begitu pula dengan madrasah ini.

Masyarakat semakin menaruh kepercayaan.

Jumlah peserta didik terus bertambah.

Lingkungan madrasah berubah.

Bangunan-bangunan baru berdiri.

Tidak sedikit orang menyebut beliau sebagai Bapak Pembangunan MTsN 1 Aceh Timur.

Saya memahami mengapa julukan itu lahir.

Namun seiring waktu, saya merasa ada warisan yang jauh lebih penting daripada bangunan.

Bangunan akan menua.

Cat akan memudar.

Dinding suatu hari akan diperbaiki kembali.

Tetapi keberanian seorang guru untuk menyampaikan ide, kesediaan seorang pemimpin untuk mendengar kritik, dan keyakinan bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika dikerjakan bersama—semua itu jauh lebih sulit dibangun daripada mendirikan sebuah gedung.

Dan justru itulah yang saya rasakan masih hidup hingga hari ini.

Ada sebuah pelajaran yang baru benar-benar saya pahami setelah perjalanan ini selesai.

Selama ini saya mengira bahwa kepemimpinan adalah tentang kemampuan mengambil keputusan yang tepat.

Ternyata saya keliru.

Keputusan yang benar sekalipun tidak akan selalu dipahami pada hari ketika keputusan itu diambil. Ada keputusan yang baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika waktu telah memberi jarak kepada emosi dan mengajarkan kita melihat dari sudut yang lebih luas.

Begitu pula dengan manusia.

Tidak ada seorang pemimpin yang seluruh keputusannya akan selalu kita setujui. Tidak ada pula seorang bawahan yang seluruh penilaiannya akan selalu benar. Kita semua sedang belajar. Bedanya, sebagian belajar sambil memimpin, dan sebagian lagi belajar sambil dipimpin.

Perjalanan bersama Drs. H. Saifullah MN mengajarkan saya bahwa ketegasan dan kelembutan bukanlah dua sifat yang saling bertentangan. Ketegasan menjaga arah. Kepercayaan menumbuhkan keberanian. Disiplin membangun budaya. Kerendahan hati menjaga kemanusiaan. Dan seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mengetahui kapan harus menggunakan masing-masing pada waktu yang tepat.

Beberapa tahun lalu, ketika saya berdiri di depan meja beliau, saya datang dengan keyakinan bahwa saya akan mengubah cara berpikir seorang kepala madrasah.

Hari ini saya menyadari bahwa justru sayalah yang pulang dengan cara berpikir yang telah berubah.

Saya belajar bahwa mendengar tidak membuat seorang pemimpin menjadi lemah. Mengakui kekeliruan tidak mengurangi kewibawaan. Meminta maaf bukanlah tanda kekalahan. Sebaliknya, di sanalah kewibawaan menemukan bentuknya yang paling utuh.

Kini masa pengabdian beliau telah usai. Tiga puluh dua tahun empat bulan bukanlah waktu yang singkat. Selama rentang itu, bangunan-bangunan berdiri, lingkungan madrasah berubah, jumlah peserta didik terus bertambah, dan berbagai program baru lahir. Semua itu akan menjadi bagian dari sejarah MTsN 1 Aceh Timur.

Namun waktu akan terus berjalan.

Suatu hari nanti, bangunan-bangunan itu mungkin akan direnovasi. Cat dinding akan diperbarui. Halaman akan ditata kembali. Bahkan nama-nama yang kini mengisi ruang guru perlahan akan berganti dengan generasi berikutnya.

Begitulah hukum waktu. Segala sesuatu berubah.

Tetapi di tengah semua perubahan itu, saya percaya ada sesuatu yang akan tetap tinggal.

Ia tidak tercatat dalam laporan tahunan.

Ia tidak terpampang pada papan nama sebuah gedung.

Ia tidak dapat diukur dengan angka atau dihitung dengan statistik.

Ia hidup dalam cara seorang guru memperlakukan muridnya.

Ia tumbuh dalam keberanian seorang guru muda menyampaikan gagasan.

Ia tampak ketika seorang pemimpin memilih mendengar sebelum menghakimi.

Ia hadir ketika seseorang berani mengakui kekeliruan tanpa merasa kehilangan wibawanya.

Itulah jejak yang sesungguhnya.

Jejak yang tidak dibangun oleh semen dan batu bata, melainkan oleh keteladanan.

Jejak yang tidak diwariskan melalui jabatan, melainkan melalui sikap.

Jejak yang tidak berhenti ketika masa tugas berakhir, melainkan terus berjalan bersama orang-orang yang pernah disentuh oleh kepemimpinannya.

Mungkin kelak, bertahun-tahun dari sekarang, tidak semua orang akan mengingat setiap keputusan yang pernah beliau ambil.

Tidak semua orang akan mengingat pidato-pidato yang pernah beliau sampaikan.

Namun saya berharap mereka masih mengingat satu hal.

Bahwa mereka pernah dipimpin oleh seseorang yang percaya bahwa ketegasan harus berjalan bersama kepedulian, bahwa disiplin harus diiringi keteladanan, dan bahwa seorang pemimpin tidak menjadi kecil karena bersedia mendengarkan.

Karena pada akhirnya, seorang pemimpin tidak benar-benar dikenang dari berapa lama ia memimpin.

Ia dikenang dari apa yang tetap tinggal setelah ia pergi.

Dan jika suatu hari nanti saya diminta menjelaskan apa yang ditinggalkan Drs. H. Saifullah MN di madrasah ini, saya mungkin tidak akan menunjuk sebuah bangunan, tidak pula menyebutkan daftar program yang pernah beliau jalankan.

Saya hanya akan berkata,

“Beliau meninggalkan jejak.”

Jejak yang tertinggal pada sebuah madrasah.

Jejak yang tertinggal pada orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Dan tanpa saya sadari, jejak itu juga tertinggal dalam diri saya.

Selesai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *