Part III – Healing dari Langit

Senin, 24 November 2025.

Hujan masih turun di Banda Aceh.

Sejak pagi langit seperti belum menemukan alasan untuk berhenti. Tidak selalu deras, tetapi cukup untuk membuat jalan-jalan tetap basah dan rencana yang sudah kami susun sejak lama perlahan kehilangan bentuknya.

Aku dan Bang Zefiar masih memikirkan satu hal: Gunung Geurutee.

Seharusnya hari itu kami berada di sana.

Rencana sudah matang. Setelah semua urusan GTK Presa selesai, Geurutee menjadi tujuan yang sejak awal ingin kami datangi. Berkali-kali rencana itu kami bicarakan. Namun, pagi itu hujan seperti memiliki keputusan sendiri.

Kami saling melihat, lalu kembali melihat hujan.

Tidak banyak yang bisa dilakukan.

Pada akhirnya, rencana itu harus kami kubur dalam-dalam.

Bukan karena kami tidak ingin pergi. Bukan pula karena keinginan itu hilang. Kami hanya sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa kami atur.

Cuaca.

Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika rencana sebaik apa pun akhirnya harus tunduk pada keadaan. Dan hari itu, kami memilih pasrah.

Aku kemudian menghubungi Faisal.

Sebelum berangkat ke Banda Aceh, aku sudah berjanji kepadanya bahwa sebelum pulang aku akan menyempatkan diri untuk ngopi lagi bersamanya. Hujan masih turun ketika kami bertemu, meskipun intensitasnya sudah jauh lebih rendah.

Kami duduk dan mulai bercerita.

Entah mengapa, obrolan dengan teman lama selalu memiliki jalan sendiri. Tidak perlu banyak basa-basi untuk sampai pada cerita-cerita yang sebenarnya sudah lama tersimpan.

Kami mengingat teman-teman masa kecil.

Dulu kami berada di tempat yang sama, tumbuh dalam lingkungan yang hampir sama, bermain dan bersekolah bersama. Kini, satu per satu telah menemukan jalannya masing-masing. Ada yang bekerja di tempat berbeda, ada yang tinggal jauh, ada pula yang mungkin sudah jarang kami temui.

Namun semuanya tetap memiliki satu kesamaan: kami pernah menjadi bagian dari masa kecil satu sama lain.

Faisal bercerita. Aku mendengarkan. Sesekali aku ikut bercerita. Sementara Bang Zefiar juga berbagi pengalaman yang ia alami selama mengikuti GTK Presa.

Di luar, hujan masih menyisakan gerimis.

Hari yang seharusnya menjadi perjalanan menuju Geurutee berubah menjadi pertemuan dengan masa lalu.

Dan mungkin, itu pun bukan kebetulan.

Setelah dari warung kopi, kami melanjutkan perjalanan mencari sepatu untuk Bang Zefiar.

Sebelumnya kami sudah mencarinya di Suzuya Mall. Tempat itu penuh dengan berbagai merek dan model. Namun, setelah berkeliling, tidak satu pun yang berhasil memenuhi dua syarat sederhana dari Bang Zefiar.

Ukurannya harus pas.

Dan modelnya tidak boleh sama dengan sepatu yang dipakai Pak Jol, kepala sekolahnya.

Hanya itu.

Bang Zefiar sebenarnya tidak terlalu peduli dengan bentuk sepatu. Baginya, selama dua syarat tersebut terpenuhi, selesai.

Aku kemudian teringat sebuah toko sepatu di samping Hermes Hotel.

Brodo.

Merek yang kebetulan juga sedang kupakai.

Karena tidak memiliki pilihan lain, kami pun menuju ke sana. Gerimis masih turun. Tidak deras, tetapi cukup untuk kembali membasahi kami.

Akhirnya, dua syarat itu terpenuhi.

Sepatunya pas.

Modelnya pun berbeda dari sepatu Pak Jol.

Hanya saja, Bang Zefiar masih memperhatikan satu hal. Tapaknya memiliki les berwarna putih. Ia sedikit ragu karena khawatir sepatu itu tidak fleksibel untuk digunakan bekerja.

Aku mencoba meyakinkannya.

“Kan masih ada sepatu yang lain untuk kerja.”

Akhirnya sepatu itu dibawa pulang.

Sederhana sekali.

Hanya sepasang sepatu.

Tetapi hari itu, di antara hujan yang tidak berhenti dan rencana yang tidak jadi, kami masih menemukan alasan untuk tersenyum.

Setelah urusan sepatu selesai, kami pergi mencari makanan khas Korea.

Sebenarnya Bang Zefiar dan Kak Resica sudah lama mengajakku pergi ke tempat seperti itu di Lhokseumawe. Berkali-kali dibicarakan, tetapi selalu kalah oleh waktu dan kesempatan.

Rencana yang tidak pernah terlaksana itu akhirnya terjadi juga.

Bukan di Lhokseumawe.

Melainkan di Banda Aceh.

Tempat makan itu kebetulan berada tepat di depan sekolah tempat Pak Hamzah mengajar. Kami pun mengajaknya bergabung.

Di sana, obrolan kembali mengalir.

Kali ini lebih banyak tentang kehidupan setelah seseorang berpindah tempat.

Pak Hamzah bercerita tentang sekolah barunya. Dari caranya bercerita, terlihat bahwa ia merasa bersyukur berada di tempat yang menurutnya tepat.

Ia juga mengingat masa pengabdiannya di MIN 14 Aceh Timur dan MAN 4 Aceh Timur.

Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan seperti itu.

Orang-orang yang pernah berada dalam satu perjalanan hidup bisa saja berpencar ke tempat yang berbeda. Namun ketika kembali duduk bersama, cerita-cerita lama seperti menemukan jalannya sendiri untuk pulang.

Belum selesai kami berbincang, Rudi melihat status WhatsApp-ku.

Ia tahu aku sedang berada di Banda Aceh.

Tak lama kemudian, ajakan ngopi datang.

Kami memilih warung kopi tradisional yang kebetulan berada di sebelah tempat makan Korea tadi. Gerimis masih menjadi alasan lain mengapa kami memilih tetap duduk lebih lama di sana.

Pak Hamzah ikut bergabung.

Rudi adalah teman sekolahku sejak MTsN hingga SMK. Kini ia bekerja di Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh pada bagian keuangan. Ia juga dipercaya kepala kantor untuk membantu mengurusi dan mengaudit madrasah-madrasah di wilayah Kankemenag Kota Banda Aceh.

Tetapi pertemuan itu tidak berlangsung lama.

Rudi masih harus kembali ke kantor.

Kami hanya sempat bertukar cerita sebelum akhirnya berpisah.

Hari itu semakin terasa aneh.

Tidak ada Gunung Geurutee.

Yang ada justru orang-orang yang satu per satu muncul dalam perjalanan kami: Faisal, Pak Hamzah, Rudi.

Seolah-olah ketika satu rencana ditutup oleh hujan, jalan lain justru terbuka dengan sendirinya.

Aku dan Bang Zefiar kemudian pulang ke rumah untuk beristirahat.

Bajuku masih basah.

Sejak pagi terkena gerimis, pakaian yang kukenakan seperti tidak pernah benar-benar mendapat kesempatan untuk kering. Aku hanya membiarkannya begitu saja.

Saat beristirahat, aku mencoba menghubungi Bang Munawir, sopir Hiace langganan kami.

Sehari sebelumnya, ketika hendak berangkat ke Banda Aceh, kami sebenarnya sudah menghubunginya. Namun saat itu ia sedang berada di arah yang berbeda sehingga kami dialihkan ke mobil lain.

Kali ini aku ingin memastikan perjalanan pulang.

Setelah kendaraan untuk kembali ke Simpang Ulim dipastikan, sore harinya aku dan Bang Zefiar kembali keluar.

Mencari oleh-oleh.

Kami membeli bolu pisang lumer.

Gerimis kembali menemani.

Dan sekali lagi, bajuku basah.

Aku mulai menyadari satu hal kecil yang sebelumnya tidak terlalu kupedulikan: seharian itu tubuhku hampir tidak pernah benar-benar kering.

Namun aku tidak terlalu memikirkannya.

Masih ada perjalanan pulang.

Setelah magrib, hujan berubah.

Kali ini bukan lagi gerimis.

Hujan turun lebat.

Bundaku meminta kami segera makan agar ketika mobil Hiace datang menjemput, perut kami sudah terisi.

Aku hendak makan.

Tetapi tiba-tiba perutku mulai sakit.

Awalnya kupikir hanya sakit perut biasa.

Ternyata tidak.

Aku diare tiada henti.

Bolak-balik ke kamar mandi. Tubuh yang sejak tadi terus kehujanan mulai terasa lemas. Bundaku mengatakan mungkin aku masuk angin karena seharian kehujanan.

Aku mengiyakan.

Mungkin benar.

Bagaimanapun, sejak pagi bajuku terus basah dan lembap.

Ayah kemudian meminta agar keberangkatan ditunda saja.

Hujan sedang sangat deras.

Kondisiku juga tidak memungkinkan. Perut terus mulas, tubuh mulai lemas, dan aku harus berkali-kali ke kamar mandi.

Untuk sesaat, aku hanya diam.

Keinginan untuk pulang bertemu dengan keadaan tubuh yang meminta istirahat.

Tetapi ada hal-hal lain yang membuat kami tidak bisa begitu saja membatalkan perjalanan.

Tiket sudah dipesan.

Aku hanya mengajukan cuti dua hari.

Dan yang paling penting, aku sudah berjanji kepada Ahmad Muhajir untuk masuk menggantikan tugasnya hari itu.

Ada pekerjaan yang menunggu.

Ada janji yang harus dipenuhi.

Maka, di tengah hujan yang semakin deras, kami tetap bersiap untuk pulang.

Saat itu aku belum tahu bahwa semua yang terjadi sejak pagi rencana Geurutee yang batal, hujan yang tidak berhenti, pakaian yang terus basah, hingga tubuh yang tiba-tiba melemah sebenarnya baru bagian kecil dari perjalanan.

Aku pikir masalah terbesar hari itu hanyalah bagaimana kami bisa pulang ke Simpang Ulim.

Ternyata aku salah.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *