Part II – Healing dari Langit

Namun, istriku justru meminta untuk ikut menemaninya.

“Pergi saja. Temani Bang Zefiar.”

Begitu kata istriku ketika aku masih ragu untuk ikut ke Banda Aceh.

Sebenarnya cukup banyak alasan yang membuatku enggan pergi. Waktu bersama keluarga hanya dua hari dalam seminggu. Kalau perjalanan itu kuikuti, berarti pada minggu tersebut waktu bersama mereka kembali berkurang.

Belum lagi jadwal ujian akhir semester yang sudah ditetapkan. Ada tanggung jawab yang harus kuselesaikan. Aku tidak ingin kepergianku justru membuat pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabku berubah menjadi beban bagi orang lain.

Namun, istriku tetap memintaku untuk pergi.

Ada alasan lain yang membuatnya begitu mendorongku untuk berangkat. Perjalanan itu sekaligus menjadi kesempatan bagiku untuk melihat kondisi ayah di sana. Sosok yang hanya bisa kami kunjungi ketika lebaran tiba.

Alasan itu membuatku mulai berpikir ulang.

Untuk urusan ujian, ternyata aku tidak perlu terlalu khawatir. Ahmad Muhajir, Muhammad Taufiq, dan Pak Oden bersedia membantu membackup pekerjaanku selama aku pergi.

Akhirnya, cuti dua hari kuajukan.

Saat itu kupikir, aku hanya sedang memutuskan untuk pergi ke Banda Aceh.

Belakangan baru kusadari, keputusan sederhana itu ternyata membawa cerita yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.

Sabtu menjelang keberangkatan, persiapan ujian masih menyita waktuku.

Semua harus selesai hari itu juga. Aku tidak ingin ketika ujian dimulai nanti, pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabku justru berpindah menjadi beban teman-teman.

Hujan turun sejak siang.

Semakin sore, hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Di tengah cuaca seperti itu, Tim Red Eyes tetap mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan ujian. Laboratorium disiapkan. Ruang kelas dipersiapkan. Beberapa peralatan bahkan harus dipindahkan dari laboratorium ke ruang kelas.

Di sinilah hujan membuat pekerjaan yang sebenarnya sederhana menjadi sedikit rumit.

Kami sempat bingung bagaimana memindahkan peralatan tanpa membuatnya terkena air.

Sampai akhirnya Pak Taufiq menemukan sebuah ide.

Payung pengantin Aceh.

Sederhana, tetapi sore itu benda tersebut justru menjadi penyelamat.

Satu per satu peralatan dipindahkan dengan berlindung di bawah payung pengantin tersebut. Di tengah hujan yang terus mengguyur, kami berusaha memastikan tidak ada peralatan yang terkena air.

Kalau mengingatnya kembali, rasanya cukup lucu.

Peralatan ujian dipindahkan menggunakan payung pengantin.

Kami bahkan sempat berpikir bahwa setelah itu mungkin harus berurusan dengan Bu Khalidah.

Tapi kami tahu, beliau pasti memahami situasinya.

Sebab terkadang pekerjaan memang tidak bisa menunggu sampai cuaca menjadi bersahabat.

Dan sore itu, semuanya harus selesai sebelum keberangkatanku.

Malam tiba.

Hujan belum juga berhenti.

Setelah semua persiapan selesai, aku dan Bang Zefiar menuju minibus Hiace yang sudah menunggu di seberang jalan sekolah.

Kendaraan itu kami dapatkan setelah pagi harinya aku menghubungi Pak Raju. Beliau membantu memberikan nomor sopir Hiace kepada kami.

Begitulah perjalanan kami dimulai.

Hujan masih mengguyur sepanjang jalan.

Karena tubuh sudah terlalu lelah, aku tertidur. Bang Zefiar pun demikian. Kami baru terbangun ketika Hiace berhenti untuk makan malam di Matang.

Kami memang belum sempat makan.

Dua porsi sate Matang akhirnya menjadi santapan kami malam itu.

Setelahnya, perjalanan kembali dilanjutkan.

Kami kembali tertidur.

Kali ini bukan lagi karena lelah.

Mungkin karena terlalu kenyang.

Sekitar pukul 04.00 pagi, kami akhirnya tiba di Banda Aceh.

Kegiatan GTK Presa dimulai pada hari Minggu di MTsN Model Banda Aceh.

Para peserta mempresentasikan karya masing-masing di hadapan dewan juri. Sementara Bang Zefiar mengikuti rangkaian kegiatan, aku menunggu di salah satu warung kopi di sekitar MTsN Model.

Rintik hujan masih turun.

Waktu menunggu itu kupakai untuk menyelesaikan data rapor siswa yang sebelumnya diberikan oleh Bu Maryana.

Di sana aku ditemani seorang sahabat masa kecil yang selama ini sering menanyakan kapan aku akan kembali ke Banda Aceh.

Faisal.

Ia adalah guru tahfiz Al-Qur’an di salah satu pesantren modern di Aceh Besar.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kembali duduk bersama teman yang pernah menjadi bagian dari masa kecil. Dulu kami tumbuh di lingkungan yang sama. Sekarang masing-masing sudah berjalan dengan kesibukan dan kehidupannya sendiri.

Kami bercerita tentang teman-teman masa kecil yang kini telah terpencar ke berbagai tempat, dengan jalan dan kesuksesan masing-masing.

Waktu ternyata memang bisa membawa orang-orang pergi begitu jauh.

Namun, ketika bertemu kembali, percakapan seperti menemukan tempatnya sendiri. Tidak perlu banyak penjelasan. Cerita lama bisa kembali begitu saja.

Hari Minggu pun berlalu.

Kegiatan GTK Presa belum sepenuhnya selesai, sementara masih ada urusan lain yang harus kuselesaikan.

Senin pagi, 24 Agustus 2025, aku bersama Bang Zefiar pergi ke kampus tempat dulu aku pernah menimba ilmu sekaligus bekerja.

Sehari sebelumnya, aku telah menghubungi Rasyada, orang yang menggantikan pekerjaanku di kampus. Aku meminta izin menggunakan laboratorium komputer Jurusan Matematika FMIPA USK untuk mengikuti Zoom Meeting sosialisasi PPG.

Di sana aku juga bertemu dengan Bang Handika.

Ia lebih sering dipanggil Bang JAL—Bagian Jaringan Air dan Listrik.

Sementara aku mengikuti Zoom Meeting, kabar dari sekolah terus masuk.

Ahmad Muhajir mengabari perkembangan pelaksanaan ujian.

Jaringan internet tidak stabil.

Hujan masih turun.

Akibatnya, banyak siswa tidak hadir.

Sesekali pikiranku kembali ke sekolah. Aku tahu teman-teman sedang menjalankan tugas yang sebelumnya menjadi tanggung jawabku. Dan aku juga teringat bahwa perjalanan ini bisa kulakukan karena ada orang-orang yang bersedia membantu menggantikan pekerjaanku selama aku pergi.

Siang berganti sore.

Kami sempat mengunjungi kafe Canai Mamak Malaysia, kemudian melanjutkan perjalanan ke Suzuya Mall.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar istimewa dari perjalanan siang itu.

Hanya dua orang yang sedang berada di Banda Aceh, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil menunggu malam.

Malam itu adalah malam pengumuman.

Kami kemudian bergegas menuju Gedung Landmark BSI, bangunan yang berdiri megah di jantung Kota Banda Aceh.

Pengumuman dijadwalkan pukul 21.00 WIB.

Para petinggi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh hadir. Begitu pula anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan sejumlah pejabat lainnya.

Namun, sejak awal kami sebenarnya sudah memiliki sedikit dugaan tentang hasilnya.

Beberapa peserta telah dikabari panitia sehari sebelumnya untuk mempersiapkan berkas yang akan dikirimkan ke Jakarta.

Kami memahami apa artinya.

Karena itu, ketika pengumuman dimulai, harapan kami tidak lagi setinggi sebelumnya.

Dan benar saja.

Bang Zefiar memperoleh juara harapan 1.

Aku melihat raut kecewa di wajah sahabatku.

Wajar.

Ia telah melewati begitu banyak proses untuk sampai ke titik itu. Ada waktu, tenaga, pikiran, dan harapan yang telah diberikan.

Tetapi kekecewaan itu tidak berlangsung lama.

Bang Zefiar menerimanya dengan lapang dada. Terlebih ketika melihat teman-teman lain yang juga mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Mungkin memang tidak semua perjalanan harus berakhir dengan kemenangan.

Ada perjalanan yang tidak membawa pulang piala, tetapi meninggalkan pengalaman yang mungkin jauh lebih lama tinggal dalam ingatan.

Malam itu kami juga bertemu dengan Pak Munzilin bersama rombongan guru dan siswanya.

Ada pula Pak Hamzah, mantan guru MAN Simpang Ulim yang telah mutasi ke Banda Aceh.

Kami bersenda gurau dan berbincang seperti biasa.

Karena malam sudah larut, kami meminta Pak Munzilin agar tidak langsung kembali ke Simpang Ulim malam itu. Pak Faisal dan guru-guru MAN lainnya juga menyetujuinya.

Akhirnya, Pak Mun memilih menunda keberangkatan.

Malam itu kembali mempertemukanku dengan orang-orang yang sebelumnya tidak ada dalam rencana perjalanan.

Begitulah perjalanan.

Kita berangkat membawa satu tujuan, tetapi sering kali justru bertemu dengan banyak hal yang tidak pernah direncanakan.

Setelah acara selesai, aku dan Bang Zefiar kembali singgah di sebuah warung kopi.

Bukan sekadar ingin menikmati kopi.

Kami bahkan belum sempat makan malam karena terlalu antusias mengikuti acara.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 ketika seseorang datang menyapa kami.

Pak Salamina.

Beliau seperti mengenal kami, padahal kami sangat jarang berinteraksi langsung.

Masih mengenakan pakaian dinas, beliau menanyakan kegiatan GTK Presa yang baru saja kami ikuti.

Beliau juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat menemani kontingen Aceh Timur. Pada waktu yang sama, ada tugas kedinasan lain yang harus beliau hadiri.

Kami berbincang sebentar.

Setelah itu beliau beranjak menuju meja lain untuk bertemu dengan kolega.

Pertemuan itu singkat.

Tetapi ada pertemuan-pertemuan singkat yang entah mengapa justru bertahan lebih lama di ingatan.

Malam semakin larut.

Hasil GTK Presa perlahan tidak lagi menjadi pembicaraan utama kami.

Pikiran kami kembali kepada rencana yang sejak awal ingin diwujudkan.

Gunung Geurutee.

Kali ini kami benar-benar ingin ke sana.

Rencana itu sebenarnya sudah muncul jauh sebelum keberangkatan ke Banda Aceh. Bang Zefiar beberapa kali ingin mengajakku ke sana, tetapi selalu gagal terlaksana.

Malam itu kami kembali membicarakannya.

Kami mulai memikirkan perjalanan tersebut dengan lebih matang. Bukan hanya bagaimana menuju ke sana, tetapi juga bagaimana kondisi cuaca.

Beberapa hari terakhir hujan terus turun.

Awalnya hujan hanya kami anggap sebagai bagian dari perjalanan.

Namun malam itu, hujan mulai terasa seperti sesuatu yang harus diperhitungkan.

Kami bahkan mulai memikirkan kemungkinan terburuk jika hujan tidak kunjung berhenti.

Saat itu kami hanya mengira sedang berhati-hati.

Kami belum tahu bahwa kemungkinan terburuk yang kami bayangkan malam itu ternyata masih terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang akan kami hadapi setelahnya.

 

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *