Yang Tak Bisa Dipilih

Pintu kantor utama terbuka. Dari arah pintu terdengar suara lembut seorang siswi.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menoleh ke arahnya.

“Cari siapa, Nak?”

“Mencari wali kelas, Ibu Anizar.”

Karena Ibu Anizar belum hadir, aku pun mengajaknya berbincang. Awalnya hanya percakapan singkat. Namun, dari situlah sebuah kisah yang hingga kini masih kuingat bermula.

Namanya Iklima.

Aku mengenal kedua orang tuanya. Ayahnya telah lebih dahulu pergi. Dua tahun kemudian, ibunya menyusul.

Bagi seorang anak yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar, kehilangan kedua orang tua bukanlah kesedihan yang mudah dijelaskan. Ada kehilangan yang terlalu dalam untuk diwakilkan oleh kata-kata. Ada luka yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai.

Ketika seorang teman mengganggunya di sekolah, kepada siapa ia akan mengadu?

Ketika ia ingin bermanja, kepada siapa ia akan bersandar?

Dan ketika hari-harinya dipenuhi cerita tentang suka dan duka, siapa yang akan mendengarkannya?

Aku tidak tahu jawabannya.

Yang kutahu, keceriaan seorang anak seperti Iklima perlahan meredup bersama perjalanan hidup yang harus dijalaninya.

Iklima adalah gadis yang pendiam dan penurut. Namun, satu hal yang selalu kusukai darinya: ia sangat sopan dan santun dalam bertutur kata. Ada didikan kedua orang tuanya yang masih tampak jelas dalam sikapnya, meskipun keduanya telah lama tiada.

Sejak kehilangan orang tuanya, Iklima tinggal bersama kakaknya. Sang kakak menjadi tempat ia bergantung satu-satunya. Dengan segala keterbatasan, kakaknya berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Namun, keadaan tidak pernah membuat Iklima berhenti bermimpi.

Ia mondok di sebuah dayah yang tidak jauh dari sekolah. Setiap hari, ia menapaki jalan menuju madrasah dengan langkah-langkah kecilnya.

Sesekali, mungkin ada rasa iri ketika melihat teman-temannya datang diantar orang tua atau mengendarai honda listrik ke sekolah.

Wajar jika rasa itu muncul.

Tetapi Iklima menyimpannya sendiri.

Barangkali ada sesuatu yang terasa sakit ketika seorang anak harus melihat kemudahan yang dimiliki orang lain, sementara dirinya hanya bisa menerima keadaan.

Waktu terus berjalan.

Ketika memasuki Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Aceh Timur, Iklima mengikuti tes penerimaan siswa baru. Ia mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh. Tidak banyak yang tahu bahwa di balik sikapnya yang sederhana, tersimpan kemampuan akademik yang cukup baik.

Beberapa waktu kemudian, madrasah mengumumkan hasil seleksi kelas digital.

Kelas itu merupakan salah satu program unggulan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan memanfaatkan teknologi. Salah satu syarat utamanya adalah memiliki laptop.

Dan nama Iklima termasuk di antara siswa yang dinyatakan layak untuk mengikuti kelas digital.

Kabar itu tentu membuatnya bahagia.

Aku bisa membayangkan senyumnya saat itu. Matanya berbinar. Mungkin dalam pikirannya sudah terbayang bagaimana ia akan belajar bersama teman-temannya dengan sebuah laptop, mencari berbagai informasi, mengerjakan tugas, dan mengenal banyak hal baru.

Tetapi kebahagiaan itu ternyata hanya sebentar.

Sesampainya di dayah, ia meminta izin meminjam handphone dayah untuk menyampaikan kabar tersebut kepada kakaknya.

“Kak, Iklima diterima di kelas digital,” katanya dengan penuh semangat.

“Alhamdulillah. Kakak bangga sama kamu.”

Iklima terdiam sebentar.

“Tapi… Iklima harus punya laptop, Kak.”

Ia tahu, laptop bukan sesuatu yang mudah dibeli dengan keadaan ekonomi mereka.

Di ujung percakapan itu, terdengar suara kakaknya.

“Maafkan kakak yang belum mampu membelikan laptop.”

Iklima berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

“Tidak apa-apa, Kak. Iklima tetap mau sekolah.”

Keesokan harinya, Iklima datang ke madrasah seperti biasa.

Ketika pembagian kelas diumumkan, namanya tidak ada di kelas digital.

Ia ditempatkan di kelas reguler.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada keluhan.

Ia hanya diam dan menerima keadaan.

Saat itu aku berpikir, terkadang sebuah kesempatan memang harus dilepaskan. Bukan karena kita tidak layak mendapatkannya, tetapi karena keadaan belum berpihak kepada kita.

Sebagai guru, aku ingin membantu. Sungguh.

Namun, kemampuanku juga terbatas. Aku hanya bisa memberikan semangat, mendorongnya untuk terus belajar dan berprestasi, dan berharap suatu hari nanti ia menjadi kebanggaan orang tuanya.

Iklima kemudian menjalani hari-harinya di kelas reguler.

Ketika teman-temannya menggunakan laptop untuk belajar, Iklima memilih memanfaatkan buku-buku yang tersedia di perpustakaan.

Ia tidak memiliki fasilitas digital.

Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: kemauan untuk terus belajar.

Di situlah aku mulai memahami sesuatu.

Iklima sebenarnya tidak kehilangan kesempatan untuk belajar. Ia hanya menempuh jalan yang berbeda.

Teman-temannya mungkin belajar dengan laptop. Iklima belajar dengan buku.

Teman-temannya mungkin memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Iklima belajar dengan apa yang tersedia.

Tetapi tujuan mereka tetap sama: meraih masa depan.

Keterbatasan fasilitas ternyata tidak selalu mampu membatasi cita-cita seseorang.

Sekarang Iklima sudah kelas VIII.

Ia terlihat lebih ceria.

Beberapa hari lalu, kami berpapasan. Seperti biasa, aku mencoba menggodanya.

“Lho, kok banyak jerawat sekarang, Iklima?”

Ia menjawab spontan,

“Allah yang kasih, Bu. Kita terima saja.”

Aku tersenyum.

Jawabannya sederhana. Bahkan mungkin ia mengatakannya tanpa berpikir panjang.

Tetapi entah mengapa, kalimat sederhana itu tinggal cukup lama di pikiranku.

Allah yang kasih. Kita terima saja.

Mungkin begitulah Iklima menjalani hidupnya.

Bukan berarti ia tidak pernah kecewa. Bukan berarti ia tidak pernah merasa kekurangan. Tetapi ia belajar menerima apa yang tidak bisa ia ubah, lalu tetap melanjutkan langkahnya.

Aku pun melanjutkan perjalanan menuju kantor utama.

Dalam perjalanan itu, pikiranku kembali kepada Iklima.

Laptop hanyalah alat.

Kelas hanyalah tempat.

Dan keadaan hanyalah ujian.

Yang lebih penting adalah keberanian untuk tetap belajar, keteguhan untuk tidak menyerah, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar.

Barangkali kita sering mengira bahwa anak-anak akan tumbuh karena fasilitas yang kita berikan kepada mereka.

Padahal, ada anak-anak yang justru tumbuh dari keterbatasan.

Mereka belajar bahwa tidak semua yang diinginkan dapat dimiliki. Mereka belajar menerima. Mereka belajar menunggu. Dan yang paling penting, mereka belajar untuk tetap berjalan meskipun jalannya tidak selalu mudah.

Aku yakin, masih banyak Iklima lainnya di luar sana.

Anak-anak yang memiliki mimpi besar, tetapi harus memulainya dari keadaan yang sederhana.

Anak-anak yang mungkin tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan teman-temannya, tetapi bukan berarti mereka tidak memiliki masa depan.

Mereka sedang menyiapkan dan memperjuangkan masa depan mereka dengan caranya masing-masing.

Dan mungkin, tugas kita bukan selalu memberikan segala sesuatu yang mereka inginkan.

Kadang-kadang, yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang percaya bahwa mereka mampu.

Seseorang yang mengatakan, “Teruslah belajar.”

Seseorang yang tetap menyemangati ketika keadaan berkata tidak.

Seseorang yang membuat mereka percaya bahwa satu pintu yang tertutup bukan berarti semua jalan telah berakhir.

Iklima telah mengajarkanku satu hal sederhana:

Kita tidak selalu bisa memilih jalan yang kita inginkan. Tetapi kita selalu bisa memilih untuk terus berjalan.

Untuk Iklima dan anak-anak seperti dirinya, hanya doa yang bisa kupanjatkan.

Semoga langkah mereka dimudahkan, mimpi mereka menemukan jalannya, dan kelak mereka menjadi orang-orang yang sukses, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *