Part I – Healing dari Langit
GTK Presa
Hari itu hujan rintik-rintik tak kunjung berhenti.
Rencana kami yang semula akan berangkat pada hari Selasa menuju Gunung Geurutee kembali harus dipikirkan ulang. Cuaca tidak menentu, sementara kendaraan untuk menuju ke sana pun belum kami miliki.
Sebenarnya, pergi ke Gunung Geurutee bukanlah rencana baru.
Itu adalah rencana utama kami jika sahabat saya, Pak Zefiar, terpilih menjadi salah satu finalis lomba GTK Presa 2025. Berkali-kali ia merencanakannya, berkali-kali pula rencana itu gagal terlaksana.
Sebelumnya, ia pernah mengajak saya untuk ikut bersamanya dalam lomba tersebut. Harapannya sederhana: jika kami berdua menjadi finalis, kami bisa bersama-sama pergi ke sana.
Namun, saya tidak terlalu berminat.
Mungkin karena sebelumnya saya pernah gagal dalam lomba yang sama, sehingga kali ini saya memilih untuk tidak terlalu berharap. Berkali-kali Pak Zefiar mengajak, berkali-kali pula saya menolak.
Sampai akhirnya ia mengubah permintaannya.
Kalau saya tidak mau menjadi peserta bersamanya, setidaknya saya diminta menjadi bagian dari “tim suksesnya”.
Saya tidak banyak membantu. Hanya menjadi teman berdiskusi, berbagi pengalaman, dan sesekali memberikan masukan berdasarkan pengalaman saya mengikuti lomba sebelumnya. Selain itu, ada satu pekerjaan yang memang kemudian menjadi bagian saya: menjadi videografer sekaligus editor untuk video yang akan dikirimkan.
Di sela-sela diskusi yang sering bercampur gurauan, saya pernah mengatakan kepadanya bahwa kalau ia benar-benar terpilih menjadi finalis, saya akan ikut dengannya jika ia berangkat ke Jakarta.
Ia langsung tertawa lebar.
“Kalau ke Jakarta saya tidak berani berjanji,” katanya, “tapi kalau sampai Banda Aceh, saya siap membawa.”
Saat itu kami menganggapnya sebagai gurauan.
Saya pun tidak pernah berpikir bahwa kalimat sederhana itu pada akhirnya benar-benar membawa saya ke Banda Aceh.
Malam terakhir pendaftaran, kami masih sibuk dengan persiapan.
Pak Zefiar berkutat dengan esainya. Sementara saya fokus menyelesaikan video yang akan diunggah.
Hujan malam itu turun sangat lebat.
Suara hujan bahkan lebih besar daripada suara yang sedang kami rekam. Beberapa kali rekaman harus diulang karena suara Pak Zefiar tenggelam di balik derasnya air yang menghantam atap.
Kami terus mencoba.
Satu rekaman.
Tidak bagus.
Ulang lagi.
Masih terdengar hujan.
Ulang lagi.
Begitulah sampai akhirnya video tersebut berhasil kami selesaikan.
Tetapi pekerjaan belum selesai.
Masalah berikutnya muncul ketika video yang sudah jadi ternyata hanya dapat diputar pada aplikasi tertentu. Kami kembali menghabiskan waktu untuk mencari cara agar video tersebut bisa digunakan dan diunggah sebagaimana mestinya.
Setelah video berhasil diunggah, saya diminta memberikan masukan terhadap esainya.
Kami kembali berdiskusi.
Terlalu asyik, bahkan sampai lupa waktu.
Di grup lomba tidak tercantum dengan jelas batas jam terakhir pendaftaran. Yang tertulis hanya batas tanggalnya. Karena itu, kami berasumsi bahwa pendaftaran masih dapat dilakukan sampai pukul 23.59 WIB.
Ternyata kami keliru.
Pukul 23.30 WIB, ketika Pak Zefiar hendak mendaftar, aplikasi justru sempat mengalami kendala. Ia segera menghubungi panitia untuk mempertanyakan keadaan tersebut.
Panitia menjelaskan bahwa batas akhir pendaftaran sebenarnya pukul 20.00 WIB.
Kami mencoba menjelaskan bahwa ketentuan tersebut tidak tercantum dalam petunjuk teknis yang kami pegang. Pak Zefiar meminta agar diberikan sedikit kelonggaran waktu.
Setelah berdiskusi, panitia akhirnya mengizinkannya untuk tetap mendaftar.
Malam itu berakhir dengan sebuah kelegaan.
Kami belum tahu hasilnya.
Kami hanya tahu bahwa semua yang bisa dilakukan sudah kami lakukan.
Beberapa hari kemudian, doa kami terkabul.
Pak Zefiar terpilih sebagai salah satu finalis GTK Presa 2025. Bahkan namanya berada di urutan pertama untuk kategori Guru Inspiratif.
Sebanyak enam finalis dari setiap kategori diundang untuk mempresentasikan karya mereka di Banda Aceh.
Begitu mengetahui kabar tersebut, ia langsung menghubungi saya.
“Temani saya ke Banda Aceh.”
Saya terdiam.
Kalimat yang dulu saya anggap sebagai gurauan ternyata benar-benar dianggap serius olehnya.
Saya tidak langsung mengiyakan.
Waktu bersama keluarga saya hanya dua hari dalam seminggu. Jika saya ikut pada minggu tersebut, berarti waktu yang seharusnya saya habiskan bersama mereka harus kembali berkurang.
Belum lagi jadwal ujian akhir semester yang sudah ditetapkan. Saya memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam pelaksanaannya.
Namun,
Bersambung….
