Part IV – Healing dari Langit

Semula, kami memperkirakan perjalanan pulang akan berlangsung seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya. Ada kendaraan yang harus ditunggu, jalan yang akan dilalui, dan rumah yang ingin segera dituju. Aku juga sudah membayangkan akan tiba di sekolah menjelang pagi, lalu melanjutkan tugas yang sempat kutinggalkan. Namun, malam itu tidak berjalan menurut perkiraan kami.

Mobil Hiace yang kami pesan seharusnya menjemput pukul 20.00 WIB. Kami menunggu, sementara hujan masih turun dengan deras. Waktu terus berjalan, tetapi kendaraan itu belum juga tiba.

Untuk mengisi waktu, aku dan Bang Zefiar membuka media sosial. Beberapa temanku mulai memperbarui status. Di tempat mereka, banjir sudah mulai terjadi. Informasi serupa beredar di TikTok. Kabar-kabar itu datang dari layar ponsel, tetapi perlahan membuat perjalanan yang belum kami mulai terasa berbeda.

Bang Zefiar mulai meragukan keputusan kami untuk pulang malam itu. Apakah kami bisa melewati perjalanan tanpa kendala? Pertanyaan itu tidak muncul tanpa alasan. Hujan masih mengguyur, sementara berita banjir semakin banyak terlihat.

Aku mencoba meyakinkannya bahwa perjalanan itu masih mungkin dilakukan. Sopir Hiace tentu lebih memahami medan yang akan dilalui. Ia juga pasti memiliki informasi yang menjadi pertimbangannya. Menurutku, tidak mungkin ia memutuskan berangkat jika informasi yang diperolehnya menunjukkan bahwa perjalanan tidak aman.

Begitulah pikiranku saat itu. Aku tidak sedang mengabaikan kabar banjir yang kami baca. Aku hanya percaya bahwa orang yang setiap hari membawa penumpang melalui jalur tersebut tentu memiliki pertimbangan sendiri. Keyakinan itu membuatku merasa keputusan untuk pulang masih masuk akal.

Pukul 22.30 WIB, mobil yang kami tunggu akhirnya datang. Dua setengah jam lebih lambat dari jadwal semula. Hujan masih sangat deras ketika kami bersiap meninggalkan tempat itu.

Ayah sudah tidur. Beliau memang bukan orang yang terbiasa terjaga hingga larut malam. Biasanya, setelah salat Isya, Ayah sudah beristirahat. Pengecualiannya hanya ketika tim sepak bola kesayangannya bertanding. Pada saat seperti itu, beliau bisa terbangun sendiri tanpa alarm begitu pertandingan dimulai.

Aku membangunkan Ayah untuk berpamitan. Bunda ikut mengantar kami keluar. Setelah berpamitan, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Sementara itu, pikiranku juga tertuju ke Langsa. Istriku mengabarkan bahwa hujan di sana sangat deras. Ia tidak bisa tidur karena saluran air di belakang rumah sudah penuh. Kekhawatirannya bisa kupahami. Dalam keadaan seperti itu, air yang terus bertambah tentu membuat siapa pun sulit merasa tenang.

Aku memintanya agar tidak panik. Ia bisa bergantian berjaga dengan adik-adikku sambil mengamankan barang-barang penting. Jika keadaan semakin buruk, barang-barang itu perlu dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.

Aku menyampaikan apa yang menurutku bisa dilakukan dari jauh. Namun, aku juga tahu bahwa berada jauh dari rumah membuatku tidak bisa membantu secara langsung. Untuk sementara, aku hanya bisa mengandalkan pesan-pesan singkat dan berharap keadaan di rumah tidak semakin buruk.

Hiace mulai bergerak menembus hujan. Kami mengambil jalur Gunung Seulawah, bukan jalan tol. Saat itu, Tol Sibanceh belum beroperasi sepenuhnya. Memang ada jalur tikus yang bisa digunakan, tetapi kondisi jalan yang belum seluruhnya beraspal tentu menjadi pertimbangan tersendiri, terlebih dalam cuaca seperti malam itu.

Menjelang tengah malam, kami tiba di kawasan Saree. Sopir berhenti untuk beristirahat dan makan. Aku memilih tetap di dalam mobil, sedangkan Bang Zefiar turun untuk membeli camilan sekaligus pergi ke kamar kecil. Sebelum turun, ia sempat menawarkan makanan ringan kepadaku. Aku menolak. Perutnya sendiri masih belum benar-benar sehat, jadi aku tidak ingin ia terlalu banyak makan.

Di dalam Hiace ada sepuluh penumpang bersama seorang sopir. Dua perempuan duduk di dekat sopir, usianya tampak sedikit lebih tua dariku. Di baris berikutnya ada tiga perempuan, seorang perempuan lanjut usia bersama kerabat yang merawatnya, serta seorang perempuan muda yang kemungkinan masih mahasiswa. Di baris lain duduk dua pemuda dan seorang perempuan muda.

Aku dan Bang Zefiar berada di bagian paling belakang, duduk berdampingan dengan satu kursi kosong di samping kami.

Perempuan muda yang duduk di salah satu baris itu beberapa kali tampak seperti mengenali kami. Namun, ia tidak pernah benar-benar menyapa. Aku tidak tahu apakah ia memang mengenal kami atau hanya merasa pernah melihat wajah kami. Kami pun tidak sempat mengetahui jawabannya.

Lebih dari tiga puluh menit kami berhenti di Saree. Hujan belum berhenti, meskipun derasnya mulai berkurang. Setelah sopir selesai beristirahat, perjalanan dilanjutkan.

Sore tadi, aku sempat mengirim pesan kepada Ahmad Muhajir. Aku memintanya meletakkan kunci di tempat yang sudah kami sepakati agar kami bisa masuk ke sekolah tanpa perlu menghubunginya ketika tiba nanti. Aku memperkirakan, jika perjalanan berjalan lancar, kami akan sampai sekitar pukul lima pagi.

Karena itu, Ahmad mungkin tidak perlu datang terlalu pagi. Aku bisa langsung mengambil alih persiapan ujian yang menjadi tanggung jawabku. Aku sudah berjanji akan membantu menggantikan tugasnya, dan aku berharap perjalanan pulang tidak akan mengubah rencana tersebut.

Setelah itu, aku kembali menyandarkan tubuh. Bang Zefiar juga beristirahat. Kami telah melewati hari yang panjang, dan rasa lelah membuat tidur menjadi hal yang paling mudah dilakukan. Mobil terus melaju, sementara hujan masih menemani perjalanan kami.

Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Ketika terbangun, hal pertama yang kusadari adalah mobil tidak lagi bergerak.

Awalnya, aku mengira kami hanya terjebak kemacetan biasa. Kendaraan yang berhenti di jalan bukanlah sesuatu yang aneh dalam perjalanan jauh. Aku belum mengetahui apa yang sedang terjadi di depan kami. Namun, ketika Hiace bergerak perlahan, aku mulai melihat bahwa persoalannya bukan sekadar antrean kendaraan.

Mobil mendekati genangan air yang membentang di jalan.

Bang Munawir, sopir yang membawa kami malam itu, tampak ragu. Ia mencoba melintasi genangan tersebut dengan hati-hati. Tetapi semakin dekat, air terlihat semakin tinggi dan arusnya semakin deras. Keadaan itu membuatnya memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Ia memutar kembali kendaraan menuju tempat yang dirasa lebih aman.

Barulah saat itu aku menyadari bahwa kami tidak bisa begitu saja melanjutkan perjalanan sesuai rencana.

Kami berhenti di depan sebuah toko tua. Tidak tampak aktivitas di dalamnya. Kami tidak tahu berapa lama harus menunggu, apakah jalan akan kembali bisa dilewati, atau bagaimana keadaan di tempat-tempat yang sudah kami lalui. Yang pasti, perjalanan yang semula kami perkirakan akan selesai menjelang pagi kini tertahan oleh keadaan yang tidak bisa kami kendalikan.

Ponselku kembali menjadi penghubung dengan rumah.

Istriku mengabarkan bahwa air sudah masuk ke dapur. Ia semakin panik karena tidak ada laki-laki dewasa di rumah, sementara mobil perlu dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Ia sendiri tidak bisa mengemudi.

Aku membaca pesannya dari tempat kami terjebak. Rumah yang kutinggalkan untuk sementara ternyata sedang menghadapi masalah yang sama sekali berbeda dari perjalanan kami. Aku ingin bisa berada di sana, tetapi jarak dan keadaan jalan membuat keinginan itu tidak mungkin diwujudkan saat itu juga.

Aku kembali meminta istriku menyelamatkan barang-barang penting dan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Untuk mobil, ia bisa meminta bantuan orang yang mampu mengemudikannya. Aku berusaha menyampaikan langkah-langkah yang bisa dilakukan, meskipun aku tahu pesan singkat tidak selalu cukup untuk menenangkan seseorang yang sedang menghadapi keadaan sulit.

Di sisi lain, tanggung jawab di sekolah juga belum hilang dari pikiranku. Aku menghubungi Ahmad Muhajir lagi. Kali ini, aku memberitahunya bahwa kami akan terlambat tiba dan meminta maaf karena tidak bisa datang sesuai perkiraan. Aku memintanya tetap bersiap untuk membantu persiapan ujian pada pagi harinya.

Satu per satu, rencana yang kususun sebelum berangkat mulai kehilangan kepastiannya. Perkiraan tiba pukul lima pagi tak lagi bisa kupegang. Keinginan untuk segera sampai di rumah pun harus berhadapan dengan kenyataan bahwa jalan yang hendak kami lewati sedang tidak aman.

Bang Zefiar masih tertidur. Ia tampaknya mengira perjalanan berlangsung lancar dan kami sudah berada di Lhokseumawe. Ia belum tahu bahwa kami sebenarnya masih terjebak di kawasan Mereudu.

Aku membiarkannya beristirahat. Malam itu, kami sama-sama lelah, meskipun belum tentu sedang menghadapi pikiran yang sama. Ia masih mengira perjalanan berjalan sebagaimana mestinya, sedangkan aku sudah harus membagi perhatian antara keadaan di sekitar kami, kabar dari rumah, dan urusan di sekolah.

Di luar, kami masih harus menunggu. Tidak ada kepastian kapan perjalanan bisa dilanjutkan. Kami hanya bisa bertahan di tempat yang dirasa lebih aman sambil menunggu keadaan memungkinkan untuk bergerak kembali.

Beberapa jam sebelumnya, ketika membaca kabar banjir di media sosial, aku masih percaya bahwa sopir tentu memahami medan dan tidak akan mengambil risiko jika perjalanan tidak aman. Kini, di depan genangan yang tak bisa kami lintasi, aku mulai memahami bahwa pengetahuan tentang jalan dan informasi yang tersedia tidak selalu cukup untuk memastikan apa yang akan kami hadapi.

Kami tidak berangkat dengan niat mencari pengalaman apa pun. Kami hanya ingin pulang.

Namun, malam itu, pulang ternyata bukan lagi perkara menempuh jarak dari satu kota ke kota lain. Ada rumah yang mulai dimasuki air, keluarga yang menunggu dalam kecemasan, tugas yang tak bisa segera kuselesaikan, dan jalan yang memaksa kami berhenti meski tujuan belum tercapai.

Aku belum tahu berapa lama kami akan berada di sana. Aku juga belum tahu bagaimana keadaan rumah ketika akhirnya bisa kembali. Yang kutahu, malam itu tidak lagi berjalan seperti yang kami rencanakan.

Dan di Mereudu, di depan sebuah toko tua yang tak tampak berpenghuni, perjalanan pulang kami masih tertahan.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *