Part VI – Healing dari Langit

Menjelang sore, Bang Munawir kembali mendapatkan kabar tentang jalan alternatif. Beberapa mobil penumpang disebut-sebut berhasil melewati banjir. Kabar itu menjadi alasan bagi kami untuk mencoba lagi setelah dua kali perjalanan yang berakhir dengan putar balik.

Tak ada kepastian tertulis, tak ada petunjuk resmi yang bisa kami periksa. Hanya kabar dari mulut ke mulut, berpindah dari satu sopir kepada sopir lain. Dalam keadaan seperti itu, keberhasilan sebuah kendaraan melewati banjir bisa menjadi alasan bagi kendaraan berikutnya untuk ikut mencoba. Namun, kami juga tahu, apa yang berhasil dilalui satu mobil belum tentu aman bagi mobil lainnya.

Bang Munawir mulai menjalankan Hiace dengan pelan. Kami mengikuti kendaraan-kendaraan lain yang juga mencari jalan keluar dari keadaan yang sejak malam sebelumnya menahan perjalanan kami. Setelah berjam-jam menunggu, bergerak kembali terasa seperti sebuah kemajuan, meskipun kami belum tahu seberapa jauh kemajuan itu akan membawa kami.

Jalan alternatif yang kami lalui dikenal sebagai Jalan Keude Meureudu, atau jalan rel kereta api. Kendaraan memenuhi ruas jalan tersebut. Kami bergerak sedikit, berhenti, lalu bergerak lagi. Kemacetan panjang membuat perjalanan terasa nyaris tanpa jarak. Di luar jendela, lumpur masih menutupi sebagian badan jalan, menyisakan bekas genangan yang telah dilewati air. Pemandangan di sekitar kami memperlihatkan bahwa banjir bukan hanya menghambat perjalanan; air telah lebih dahulu mengubah keadaan tempat-tempat yang kami lewati.

Aku mencoba menikmati setiap kemajuan kecil. Beberapa meter yang berhasil ditempuh terasa berarti setelah sekian lama hanya duduk menunggu. Tetapi kemacetan yang tak kunjung terurai perlahan mengikis kesabaran. Kami tidak tahu apakah kendaraan di depan sedang menunggu, mencari jalan yang lebih aman, atau berhadapan dengan hambatan yang belum terlihat oleh kami.

Dalam keadaan seperti itu, aku teringat kepada Muchsin.

Rumah temanku itu berada tepat di pinggir jalan alternatif yang sedang kami lalui. Aku berpikir, jika ia sedang berada di rumah, mungkin kami bisa singgah untuk beristirahat. Rumahnya besar dan memiliki lantai dua. Setelah melewati malam tanpa tidur, tertahan sepanjang pagi, lalu menunggu hingga sore, kesempatan untuk beristirahat di tempat yang lebih layak terasa cukup menggiurkan.

Aku mencoba meneleponnya. Namun, seperti sebelumnya, sinyal tak kunjung tersedia. Tak ada jawaban yang bisa kuperoleh. Akhirnya, kami hanya bisa menunggu sampai Hiace perlahan mendekati rumahnya.

Ketika kendaraan kami tepat berada di depan rumah itu, kulihat Muchsin sedang membersihkan lumpur. Ia rupanya juga sedang menghadapi pekerjaan yang ditinggalkan banjir. Aku memanggilnya dari jendela kecil Hiace. Ia mendengar suaraku, menoleh, lalu mengenaliku.

Tanpa banyak basa-basi, Muchsin langsung meminta kami singgah di rumahnya.

Di tengah perjalanan yang tak kunjung menemukan kepastian, tawaran itu terasa seperti kesempatan untuk keluar sebentar dari lingkaran menunggu. Aku mengenal Muchsin sebagai orang baik. Aku percaya ia akan menerima kami dengan senang hati. Namun, sebelum kami memutuskan, ia menjelaskan keadaan jalan di depan.

Menurutnya, jalur itu akan sulit dilewati. Kalaupun masih bisa ditembus, kemungkinan hanya kendaraan besar seperti truk yang mampu melintas.

Aku dan Bang Zefiar saling mempertimbangkan keadaan. Kami sudah berulang kali tertahan dan kembali ke tempat semula. Beristirahat di rumah Muchsin mungkin pilihan yang lebih aman. Kami bisa menunggu sampai keadaan membaik tanpa harus terus berada di jalan. Tetapi di sisi lain, kami juga ingin segera sampai ke tujuan. Semakin lama perjalanan tertunda, semakin banyak urusan yang menunggu untuk diselesaikan.

Akhirnya, kami memilih melanjutkan perjalanan.

Muchsin memahami keputusan itu. Ia tidak memaksa kami untuk tinggal. Hanya saja, ia berpesan agar jika jalan di depan benar-benar tidak memungkinkan, kami kembali saja ke rumahnya untuk beristirahat.

Aku mengiyakan.

Hiace kembali bergerak meninggalkan rumah Muchsin. Aku sempat melihatnya masih berada di sana sebelum kendaraan kami perlahan menjauh. Aku tidak tahu apakah kami akan benar-benar kembali menemuinya atau justru berhasil melewati jalan yang ia khawatirkan. Saat itu, kami masih memilih untuk percaya bahwa perjalanan bisa dilanjutkan.

Namun, semakin mendekati Pasar Meureudu, semakin jelas bahwa jalan di depan bukan sekadar persoalan kemacetan.

Banyak mobil penumpang dan kendaraan pribadi mulai memutar balik. Warga sekitar tidak mengizinkan mobil kecil melintas. Arus air terlalu kencang. Mereka yang tinggal di sana dan menyaksikan keadaan secara langsung tentu memiliki alasan untuk memperingatkan para pengendara. Jalan yang tampak bisa dilewati dari kejauhan belum tentu aman ketika kendaraan benar-benar memasuki genangan.

Bang Munawir memperhatikan keadaan di depan, lalu memilih berbalik arah.

Kami kembali menghadapi kenyataan yang sama: jalan yang semula diharapkan menjadi jalan keluar ternyata belum bisa dilalui. Beberapa penumpang meminta agar kami kembali saja ke Banda Aceh. Akan tetapi, Bang Munawir memperoleh informasi bahwa kawasan kaki Gunung Seulawah juga mengalami banjir. Memutar balik ke arah semula tidak serta-merta membawa kami ke tempat yang lebih aman.

Sebagian penumpang memilih tetap bertahan, berharap air akan surut dan jalan bisa dilalui nanti. Kami pun kembali ke tempat berteduh sebelumnya, meskipun tidak persis di posisi yang sama karena tempat itu sudah ditempati kendaraan lain.

Sore terus berjalan, sementara kami seperti kembali ke titik awal.

Rasanya melelahkan ketika sebuah keputusan yang diambil dengan harapan membawa kemajuan justru berakhir dengan kembali ke tempat semula. Kami telah bergerak, melihat keadaan di depan, mendengar peringatan warga, lalu berbalik. Tidak ada yang benar-benar salah dengan keputusan itu. Kami hanya sedang mencoba menemukan jalan yang masih mungkin dilalui, sementara keadaan di lapangan terus membatasi pilihan.

Kemudian, kabar baru kembali datang.

Beberapa mobil penumpang disebut berhasil menembus banjir. Bang Munawir pun memutuskan untuk mencoba lagi. Kendaraan lain yang berada bersama kami ikut bersiap bergerak. Barangkali kali ini keadaan sudah memungkinkan. Barangkali air telah berkurang, atau kendaraan yang lebih dahulu melintas menemukan bagian jalan yang aman.

Sekali lagi, kami menaruh harapan pada kabar yang belum bisa kami pastikan sendiri.

Kami kembali menyusuri jalan alternatif itu. Hujan telah mereda menjadi gerimis ringan, tetapi sisa-sisa banjir masih terlihat di sepanjang jalan. Saat melewati rumah Muchsin untuk kedua kalinya, aku tidak lagi melihatnya berada di depan rumah. Kami terus bergerak menuju Pasar Meureudu, melewati kawasan yang masih dipenuhi bekas genangan dan lumpur.

Di beberapa titik, warga membantu mengarahkan kendaraan. Petugas yang terlihat mengatur lalu lintas hanya sekitar dua sampai lima orang, jumlah yang terasa sangat sedikit dibandingkan dengan banyaknya kendaraan yang berusaha melintas. Warga setempat menunjukkan bagian yang dianggap lebih aman, sementara para sopir berusaha membaca keadaan dari depan kemudi.

Menjelang malam, kami akhirnya kembali tiba di Pasar Meureudu. Selepas Magrib, antrean kendaraan untuk menyeberangi banjir semakin panjang. Lampu kendaraan menyinari jalan yang mulai gelap, tetapi cahaya itu tidak cukup untuk memperlihatkan keadaan di bawah permukaan air.

Beberapa sopir berhenti cukup lama sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan. Ada yang akhirnya memilih putar balik. Ada pula yang tetap mencoba meneruskan perjalanan. Ketika kendaraan di depan tidak bergerak cepat, suara kesal mulai terdengar. Sebagian pengendara tidak sabar menunggu, seolah-olah kendaraan yang berhenti itulah satu-satunya penyebab kemacetan.

Padahal, kendaraan yang lambat itu mungkin sedang menghadapi persoalan yang sama: sopirnya tidak tahu seberapa dalam air di depan, tidak tahu apakah jalan masih utuh, dan tidak tahu apakah kendaraan akan tetap menyala setelah melewati genangan. Namun, dari luar, keraguan mudah terlihat seperti kelambanan. Orang-orang yang menunggu di belakang hanya melihat antrean yang tak bergerak, bukan semua risiko yang sedang dipertimbangkan di balik kemudi.

Aku sendiri tidak tahu keputusan apa yang akan diambil Bang Munawir ketika tiba giliran kami.

Sekitar setahun sebelumnya, aku, Bang Zefiar, dan Surya pernah mengalami situasi serupa. Waktu itu, kami hendak berkunjung ke rumah Asnawi setelah ayahnya wafat. Kami terjebak banjir di kawasan Peudawa, Bireuen. Arus air juga sangat kencang, dan sepanjang perjalanan sopir terus berkomunikasi dengan atasannya.

Sang toke melarang sopir itu melintasi banjir. Jika ia tetap nekat dan mobil mengalami kerusakan, ia harus menyiapkan sekitar delapan puluh juta rupiah untuk biaya perbaikan. Bagi seorang sopir, risiko sebesar itu bukan perkara kecil. Akhirnya, ia memilih tidak meneruskan perjalanan dengan mobilnya dan mengoper kami ke kendaraan lain agar kami bisa sampai ke tujuan.

Pengalaman itu membekas dalam ingatanku. Aku masih bisa mengingat bagaimana perjalanan kami waktu itu harus berubah karena keputusan sang toke. Ada batas yang tidak boleh dilanggar, sekalipun penumpang ingin segera sampai.

Karena itu, ketika melihat antrean di Pasar Meureudu malam ini, aku semula mengira Bang Munawir akan mengambil keputusan yang sama: memutar balik jika keadaan terlalu berbahaya. Aku tidak tahu apakah ia memikirkan kejadian yang sama, apakah ia memiliki pertimbangan lain, atau apakah kabar tentang mobil-mobil yang berhasil melintas telah membuatnya yakin bahwa jalan masih bisa ditembus.

Yang kutahu, ia tetap bersikeras melanjutkan perjalanan.

Dan kami mengikutinya.

Setelah melewati kawasan pasar, kami mulai memasuki jalan umum yang dikenal sebagai jalan rel kereta api. Malam telah benar-benar turun. Jalan di hadapan kami gelap gulita, sementara kendaraan dan orang-orang memenuhi ruang yang tersisa. Banyak warga berjalan kaki, sebagian mendorong sepeda motor untuk menyeberangi banjir. Kendaraan bergerak sangat lambat karena tidak memiliki cukup ruang untuk bermanuver.

Di dalam Hiace, kami hanya bisa mengikuti gerakan kendaraan di depan. Setiap kali mobil bergerak, kami berharap antrean akan kembali berjalan. Setiap kali berhenti, kami menunggu lagi. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kami tidak lagi sekadar terjebak kemacetan di jalan yang berlumpur. Kami sedang mendekati genangan yang harus diseberangi agar perjalanan bisa berlanjut.

Tidak ada petunjuk yang bisa memastikan apakah jalan di bawah air berlubang atau masih utuh. Para sopir hanya bisa menerka berdasarkan apa yang mereka lihat, mengikuti kendaraan yang sudah lebih dahulu lewat, atau mendengarkan arahan warga setempat. Beberapa warga berdiri di sekitar genangan, memberi isyarat ke arah bagian yang mereka anggap aman.

Tetapi aman, malam itu, bukan sesuatu yang mudah dipastikan.

Air menutupi jalan. Arusnya deras. Di beberapa bagian, kedalamannya diperkirakan mencapai sekitar delapan puluh sentimeter dari permukaan jalan. Kami tidak bisa melihat batas badan jalan dengan jelas. Tidak pula ada jaminan bahwa bagian yang baru saja dilalui kendaraan di depan akan memberikan keadaan yang sama bagi kendaraan berikutnya.

Meski demikian, antrean terus bergerak. Kendaraan yang berada di depan kami perlahan maju, lalu berhenti lagi. Kami menunggu giliran, seolah-olah perjalanan ini bergantung pada keputusan setiap sopir untuk maju beberapa meter, berhenti, kemudian mencoba lagi.

Lalu, pada suatu titik, Hiace kami ikut terhenti.

Di depan, kendaraan tidak bergerak. Di belakang, kendaraan lain menunggu. Kami berada di tengah genangan, dalam keadaan yang membuat pilihan semakin sempit. Para penumpang mulai panik. Warga sekitar meminta kendaraan di depan segera bergerak. Jika terlalu lama berhenti di tempat seperti itu, keadaan bisa menjadi berbahaya bagi kendaraan yang sedang berada di dalam air.

Aku tidak tahu berapa lama kami terdiam. Dalam situasi seperti itu, waktu terasa berbeda. Menunggu beberapa saat saja bisa terasa panjang ketika kendaraan berada di tengah arus, sementara jalan di depan tidak terlihat jelas.

Akhirnya, kendaraan di depan mulai bergerak lagi.

Aku berharap antrean akan kembali mengalir. Namun, sebelum kami benar-benar bisa maju, Hiace yang tepat berada di depan kami mendadak mati mesin.

Jim.

Satu kata itu cukup untuk membuat ingatanku kembali ke Peudawa.

Delapan puluh juta rupiah.

Angka itu muncul begitu saja dalam pikiranku, menghubungkan kejadian setahun lalu dengan keadaan yang sedang kami hadapi. Dulu, sopir memilih menghindari risiko karena ancaman kerusakan kendaraan. Kini, di hadapan kami, sebuah Hiace telah mati mesin tepat di tengah genangan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kendaraan itu, tetapi aku tahu bahwa kami tidak sedang berada di jalan biasa, tempat mobil bisa berhenti lalu menunggu bantuan tanpa harus memikirkan arus air di sekelilingnya.

Semua penumpang mulai panik. Warga kembali meminta kendaraan itu segera bergerak. Posisi mobil yang terhenti membuat keadaan semakin sulit bagi kendaraan di belakangnya, termasuk kami.

Aku menoleh kepada Bang Munawir.

Kekhawatiran terlihat pada dirinya. Ia berusaha menjaga pedal gas agar mesin Hiace kami tidak ikut mati. Di tengah kondisi yang semakin genting, ia harus mempertahankan kendaraan tetap hidup dan mencari kesempatan untuk bergerak. Ia tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengambil keputusan dengan leluasa. Di depan ada mobil yang berhenti, di sekitar kami ada air yang mengalir deras, dan di jalan yang sama ada orang-orang yang berusaha menyeberang dengan berjalan kaki.

Lalu, di tengah upayanya menjaga Hiace tetap bergerak, kejadian lain berlangsung begitu cepat.

Bang Munawir menyenggol seorang pejalan kaki yang sedang melintasi air.

Pada saat itu, segala sesuatu yang sejak tadi kami khawatirkan terasa berkumpul di satu tempat: kendaraan yang mati mesin di depan kami, arus air yang deras, jalan yang gelap, orang-orang yang bergerak di antara kendaraan, dan Bang Munawir yang berusaha agar mobil kami tidak ikut berhenti.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Kami masih berada di tengah banjir, belum keluar dari genangan, dan belum menemukan kepastian bahwa jalan di depan bisa dilalui.

Yang kutahu, malam itu kami sudah sampai pada keadaan yang jauh berbeda dari saat pertama kali memutuskan pulang dari Banda Aceh.

Semula, kami hanya ingin sampai ke rumah.

Kini, di tengah arus yang tak bisa kami kendalikan, kami bahkan tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi beberapa meter di depan.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *