Gambar Kecil untuk Ayah
Semalam, aku merasa kalah sebagai seorang ayah.
Bukan karena Oemar tidak mendengarkan perintahku. Bukan pula karena rumah kami berantakan oleh mainan yang tak kunjung dibereskannya. Aku merasa kalah karena setelah meluapkan kemarahan kepadanya, aku melihat sesuatu di matanya yang membuat hatiku runtuh: ia sedang menahan tangis, dengan rasa takut yang begitu jelas.
Oemar baru berusia enam tahun. Anak laki-lakiku itu masih berada pada usia ketika dunia seharusnya menjadi tempat yang aman untuk bermain, bertanya, mencoba, dan sesekali melakukan kesalahan. Namun, malam itu, aku justru menjadi seseorang yang membuatnya takut.
Beberapa hari terakhir, emosiku memang lebih mudah tersulut. Aku sering marah kepadanya, bahkan untuk perkara-perkara yang sebenarnya sepele. Aku berusaha menahan diri, tetapi entah mengapa, rasanya sulit sekali. Aku tahu seharusnya aku bisa lebih sabar, tetapi mengetahui sesuatu yang benar ternyata tidak selalu membuat kita mudah melakukannya.
Selepas Isya, persoalannya kembali tentang mainan.
Oemar dan adiknya, Yasmin, telah membuat rumah seperti kapal pecah. Mainan berserakan di berbagai sudut, termasuk di atas tempat tidur. Aku sudah meminta Oemar membereskannya. Ia menjawab, “Iya, Ayah,” tetapi setelah itu tidak melakukan apa-apa.
Ketika kulihat ia masuk ke kamar dengan mainan yang masih berserakan di tempat tidur, emosiku kembali terpancing. Aku memarahinya dan menyuruhnya keluar kamar, sementara aku sendiri membereskan mainan yang ditinggalkannya.
Aku tahu, ketika aku benar-benar marah, Oemar biasanya segera mendengarkan perintahku. Ia akan melakukan apa yang kuminta. Dari satu sisi, cara itu tampak berhasil. Namun, jika setiap kali aku ingin ia menurut aku harus lebih dahulu marah, sebenarnya apa yang sedang kupelajari tentang keberhasilanku mendidiknya?
Aku ingin ia belajar bertanggung jawab. Aku ingin ia memahami bahwa mainan yang telah digunakan harus dibereskan kembali. Itu bukan permintaan yang berlebihan. Akan tetapi, malam itu, di antara mainan yang berserakan dan suaraku yang meninggi, aku melihat mata anakku mulai menahan tangis.
Ia takut.
Pemandangan itu terus tertinggal dalam pikiranku, bahkan setelah mainan selesai dibereskan.
Berbeda dengan Yasmin yang lebih senang menempel kepada ibunya, Oemar hampir tidak pernah ingin jauh dariku. Ketika tidur, ia menjadikan lenganku sebagai bantal. Kadang aku bahkan harus mengatur posisi tidur dengan hati-hati agar lenganku tidak terlalu pegal, tanpa harus membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak.
Sejak masih bayi, ia sudah bisa membedakan ayunanku dengan ayunan ibunya. Ketika aku berada di rumah, pekerjaan yang biasanya dilakukan istriku untuk Oemar seolah berpindah menjadi tugasku. Kalau sebelumnya ibunya yang mengurus, begitu aku ada, ia ingin aku yang melakukannya.
Ada kedekatan yang tumbuh begitu saja di antara kami. Aku tidak pernah membuat aturan bahwa ia harus selalu dekat denganku. Ia hanya melakukannya, dengan caranya sendiri.
Dan ada satu hal yang paling kusenangi darinya: Oemar sangat sering mengatakan bahwa ia menyayangiku. Bukan hanya ketika aku bertanya atau ketika aku baru saja memeluknya. Terkadang, saat ia sedang asyik bermain sendiri, tiba-tiba terdengar suaranya mengatakan bahwa ia sayang kepada ayahnya.
Aku sering tersenyum mendengarnya. Kalimat sederhana itu terasa menyenangkan, bahkan ketika ia mengucapkannya tanpa alasan yang jelas.
Minggu lalu, misalnya, aku membuat status dengan lagu Ayah Pasti Pulang. Istriku kemudian bercerita bahwa Oemar menyanyikan lagu itu dengan khusyuk, matanya berkaca-kaca. Menurut ibunya, ia sangat merindukan ayahnya.
Aku bisa memahami mengapa ia merasakan kerinduan itu. Selama sepuluh hari sebelumnya, aku memang selalu berada di dekatnya. Mungkin, setelah terbiasa melihatku di rumah, kepergianku terasa berbeda baginya.
Mendengar cerita istriku, aku membayangkan anak kecil itu menyanyikan lagu tentang ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika mengetahui bahwa kehadiran kita ternyata begitu berarti bagi seseorang yang masih sangat kecil.
Namun, semalam, aku justru membuat anak yang begitu merindukan kehadiranku itu ketakutan oleh kemarahanku sendiri.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat menahan tangis. Yang kutahu, ia sedang takut, dan aku adalah penyebabnya.
Ia datang menunjukkan gambar manusia kepadaku. Saat itu, aku masih sedikit cuek. Mungkin aku masih terbawa suasana setelah kejadian sebelumnya. Namun, tak lama kemudian, ia kembali menghampiriku dengan membawa gambar yang sama, kali ini disertai tulisan tangannya.
Di atas kertas itu tertulis:
“Abang sayang sekali Ayah.”

Aku terdiam.
Tulisan itu belum sempurna. Bentuk hurufnya masih sederhana, seperti tulisan anak seusianya. Namun, ia berhasil menuliskan kalimat itu dengan benar. Aku bangga melihat kemampuannya, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada kebanggaan seorang ayah terhadap kemampuan anaknya.
Aku sedang berhadapan dengan anak yang baru saja kumarahi, tetapi ia datang kepadaku dengan membawa pernyataan kasih sayang.
Aku langsung memeluknya.
“Ayah, Abang minta maaf karena udah buat Ayah marah,” katanya.
Aku menjawab, “Harusnya Ayah yang minta maaf karena Ayah udah marah sama Abang.”
Lalu ia mendekapku erat.
“Abang sayang kali sama Ayah.”
Air mataku pun berlinang.
Anak yang baru saja kubuat takut justru berusaha meyakinkanku bahwa ia menyayangiku. Ia meminta maaf atas kesalahannya, sementara aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu dalam caraku memperlakukannya yang harus kuperbaiki.
Aku memeluknya lebih erat. Aku tidak ingin menganggap satu pelukan bisa menghapus rasa takut yang baru saja ia alami. Namun, aku ingin memulai memperbaiki keadaan dari sana.
Malam itu, aku belajar bahwa anak yang berbuat salah tetaplah anak yang membutuhkan kasih sayang. Ia perlu diajari tanggung jawab, tetapi tidak seharusnya dibuat merasa bahwa kesalahannya mengurangi cinta orang tuanya.
Saat aku sedang mengemas baju untuk ku bawa besok, Ia turut memasukkan gambar itu ke dalam tas sambil memintaku membawa gambar itu untuk kusimpan.
Aku mengiyakan.
Permintaannya mengingatkanku pada sebuah ceramah Ustaz Adi Hidayat yang pernah kudengar. Dalam pemberitaan tentang ceramah tersebut, beliau menceritakan hasil karya anaknya yang selalu dibawa di dalam tas. Pada gambar itu tertulis kalimat “I Love Buya”.
Aku tidak ingin menyamakan kisahku dengan kisah beliau. Setiap keluarga memiliki cerita yang berbeda. Namun, ada satu hal yang terasa dekat: bagi seorang ayah, gambar buatan anak bukan sekadar kertas. Ada bagian dari kehidupan anak yang ikut kita bawa di dalamnya.
Aku membayangkan gambar Oemar tersimpan di dalam tas yang kubawa ke mana-mana. Mungkin, di antara kesibukan dan berbagai urusan, sesekali aku akan menemukannya kembali. Aku akan melihat tulisan kecilnya, gambar manusia yang dibuatnya, dan kupiah yang begitu dikenalnya dari ayahnya.
Barangkali orang lain tidak akan memahami mengapa selembar kertas itu begitu berarti. Mereka mungkin hanya melihat gambar seorang anak kecil. Namun, aku akan tahu cerita di baliknya: malam ketika aku marah karena mainan yang berantakan, malam ketika kulihat anakku menahan tangis, dan malam ketika ia datang membawa kasih sayang yang membuatku menangis.
Aku ingin menyimpan gambar itu agar tidak lupa bahwa aku masih harus belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Aku teringat Surah Luqman. Allah mengabadikan bagaimana Luqman menasihati anaknya dengan panggilan yā bunayya, sebuah ungkapan penuh kedekatan yang lazim diterjemahkan sebagai “wahai anakku tersayang”. Luqman mengajarkan tauhid, ibadah, kesabaran, dan akhlak kepada anaknya (QS. Luqman [31]: 13–19).
Dari kisah itu, aku kembali diingatkan bahwa mendidik anak bukan sekadar membuat mereka mengikuti perintah, melainkan membimbing mereka memahami kebaikan dan menjadikannya bagian dari kehidupan.
Aku tetap ingin Oemar belajar bertanggung jawab. Mainan harus dibereskan setelah digunakan, dan setiap anggota keluarga perlu ikut menjaga rumah. Namun, aku perlu mencari cara agar ia memahami tanggung jawab itu tanpa harus menunggu ayahnya kehilangan kesabaran.
Aku bisa menjelaskan aturan dengan lebih baik, mendampinginya memulai, dan konsisten menerapkan kebiasaan membereskan mainan sebelum beralih ke kegiatan lain. Aku tidak harus membiarkan perilakunya, tetapi aku juga tidak harus membuatnya takut agar ia mau berubah.
Jika aku ingin anak-anak belajar sabar, aku pun harus berusaha mengendalikan emosiku. Jika aku ingin mereka berani meminta maaf ketika bersalah, aku harus bersedia melakukan hal yang sama. Sebab, aku tidak hanya mengajarkan nilai-nilai kebaikan melalui perkataan, tetapi juga melalui cara aku memperlakukan mereka.
Allah mengingatkan dalam Surah At-Tahrim ayat 6 agar orang-orang beriman menjaga diri dan keluarganya. Ayat itu membuatku merenungkan kembali tanggung jawab sebagai ayah: membimbing anak-anak mengenal Allah sekaligus terus memperbaiki diri agar dapat menjadi teladan bagi mereka.
Aku tidak ingin Oemar hanya belajar bahwa ia harus segera membereskan mainan ketika ayahnya marah. Aku ingin ia memahami tanggung jawab karena mengerti kebaikan, bukan semata-mata karena takut kepada orang yang mengajarkannya.
Oemar begitu sering mengatakan sayang kepadaku. Ia senang berada di dekatku, menjadikan lenganku sebagai bantal, dan mencari kehadiranku ketika aku di rumah. Ia bahkan bisa merindukanku hanya karena kebiasaan sepuluh hari bersama-sama tiba-tiba berubah.
Namun, ketika aku marah, ia juga bisa merasa takut kepadaku.
Kedua hal itu dapat hadir bersamaan. Anak bisa sangat menyayangi ayahnya, tetapi pada saat yang sama merasa takut ketika ayahnya kehilangan kendali. Kedekatan yang sudah terbangun tidak membuat kita kebal dari kemungkinan melukai perasaannya.
Aku teringat percakapan lain dengannya. Pernah suatu kali aku bertanya apa yang paling membuatnya tidak senang. Ia menjawab bahwa ia paling takut ketika aku marah kepadanya.
Aku masih mengingat jawaban itu.
Barangkali selama ini aku terlalu sibuk melihat apakah Oemar sudah mendengarkan perintahku, sampai kurang memperhatikan bagaimana ia menerima caraku berbicara kepadanya. Aku ingin ia tetap bisa bercerita ketika takut, sedih, atau tidak memahami sesuatu. Aku ingin ia tahu bahwa ayahnya dapat menegur dengan tegas tanpa berhenti menyayanginya.
Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan selalu menjadi ayah yang sempurna. Namun, aku ingin cukup berani untuk mengakui kesalahan dan terus memperbaiki diri. Aku ingin Oemar tumbuh dengan memahami bahwa bertanggung jawab bukan berarti tidak pernah berbuat salah, melainkan bersedia belajar dari kesalahan dan memperbaikinya.
Namun, aku ingin mengingat cerita di baliknya: tulisan “Abang sayang sekali Ayah”, matanya yang menahan tangis, pelukannya yang erat, dan gambar kupiah yang dibuatnya setelah kami berdamai.
Bukan untuk membuatku merasa bersalah setiap kali harus menegurnya, melainkan untuk mengingatkanku agar tidak kehilangan tujuan di tengah proses mendidik.
Aku sedang menemani seorang manusia kecil bertumbuh, belajar mengenal Allah, memahami kehidupan, dan membangun akhlaknya. Aku ingin menjadi bagian dari proses itu dengan sebaik-baiknya.
Mungkin, bertahun-tahun lagi, Oemar tidak akan ingat mainan apa yang berserakan malam itu. Namun, aku berharap ia tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah adalah tempat ia belajar bertanggung jawab sekaligus tempat ia merasa aman untuk kembali.
Aku berharap ia mengingat ayah yang mengajarinya tentang disiplin, tetapi juga bersedia mendengarkan, memeluknya, dan meminta maaf ketika keliru.
Malam itu, Oemar memintaku membawa gambarnya untuk kusimpan.
Aku mengiyakan permintaannya.
Dan kini aku tahu, ada sesuatu yang lebih penting daripada membawa gambar itu ke mana-mana. Aku harus membawa pelajaran di baliknya ke dalam kehidupanku sehari-hari: ketika Oemar tidak menurut, ketika Yasmin membuat rumah berantakan, ketika aku lelah, dan ketika kesabaranku kembali diuji.
Aku ingin belajar menjadi ayah yang tidak hanya dirindukan ketika jauh, tetapi juga dirasakan kasih sayangnya ketika berada di dekat anak-anaknya.
Semoga Allah membimbingku, menjaga Oemar dan Yasmin, serta menolong kami bertumbuh bersama dalam kebaikan.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika aku membuka kembali gambar kecil itu, aku tidak hanya mengenang betapa besar kasih sayang anakku kepadaku, tetapi juga mengingat betapa besar amanah yang Allah titipkan melalui kasih sayang tersebut.
Karena ternyata, di antara hal-hal yang ingin kuajarkan kepada anakku, ada satu hal yang tidak boleh kulupakan: aku pun harus terus belajar menjadi ayah.
