Part V – Healing dari Langit

Malam itu aku tak lagi bisa tidur.

Ada terlalu banyak hal yang berputar di kepala. Rumah, pekerjaan, izin kepada atasan, tugas-tugas yang menunggu, juga kondisi perutku yang sejak sebelum berangkat memang belum benar-benar baik. Kami masih tertahan di Mereudu, sementara hal-hal yang biasanya bisa kuurus sendiri kini berada di luar jangkauanku. Aku bahkan tak tahu kapan perjalanan ini bisa dilanjutkan.

Sekitar pukul tiga dini hari, istriku mengabari bahwa ia telah mengungsi ke rumah saudara. Setidaknya, untuk sementara, ia dan anak-anak tidak lagi bertahan di rumah yang mulai dimasuki air. Aku mencoba merasa lega mendengar kabar itu, meskipun belum benar-benar tenang.

Satu jam kemudian, pesan darinya kembali masuk. Mereka harus berpindah ke tempat lain karena air semakin tinggi.

Aku membaca kabar itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Belum lama mereka sampai di satu tempat, sekarang mereka harus mencari tempat lain yang lebih aman. Aku tak bisa membayangkan apa yang harus mereka lalui malam itu. Istriku harus menghadapi semuanya bersama anak-anak dan adik-adik perempuannya, tanpa diriku di sisi mereka.

Setelah pesan itu, komunikasi kami terputus.

Aku terus berusaha menghubunginya, tetapi tak satu pun panggilan tersambung. Pesan yang kukirim tak kunjung mendapat balasan. Aku tidak tahu apakah mereka sudah tiba di tempat yang aman, apakah air masih naik, atau apakah mereka kembali harus berpindah. Semakin lama tak ada kabar, semakin banyak kemungkinan yang muncul dalam pikiranku.

Ada saat-saat ketika seseorang ingin segera melakukan sesuatu, apa saja, hanya agar tidak merasa begitu tak berdaya. Namun, malam itu aku tak punya banyak pilihan. Aku terjebak bersama penumpang lain, jauh dari rumah, sementara keluargaku sedang berusaha menyelamatkan diri.

Aku hanya bisa berdoa. Semoga Allah menjaga mereka, melindungi setiap langkah mereka, dan memberi mereka tempat yang aman untuk berteduh.

Di tengah kecemasan itu, ada urusan lain yang tak bisa begitu saja kulupakan: pekerjaan.

Aku menghubungi Ahmad Muhajir dan memberitahunya bahwa hari itu aku tak mungkin tiba di sekolah seperti yang telah kurencanakan. Aku meminta maaf sekaligus memintanya kembali menangani tugas-tugas ujian. Semula, aku berharap bisa sampai menjelang pagi dan langsung mengambil alih pekerjaan yang sudah kami bicarakan. Kini, rencana itu tak lagi mungkin dilakukan.

Selain tugas ujian, kami juga sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ada sejumlah tugas yang harus diselesaikan, sementara satu pun belum sempat kukerjakan. Ketika Ahmad memastikan apakah aku benar-benar tidak sanggup menyelesaikannya dan menawarkan bantuan, aku menolak.

Bukan karena aku tak membutuhkan bantuan. Aku tahu masih ada pekerjaan yang menunggu, tetapi Ahmad juga sudah kubebani dengan urusan ujian. Rasanya tidak pantas jika semuanya kembali kuserahkan kepadanya.

Aku mencoba menghitung waktu. Tenggat beberapa tugas PPG masih beberapa hari lagi. Jika perjalanan segera lancar, mungkin aku masih bisa mengejarnya. Aku berpegang pada kemungkinan itu, meskipun saat itu bahkan untuk mengetahui kapan kami bisa bergerak pun tidak mudah.

Aku juga mengabari Pak Pon selaku kepala madrasah. Sebelumnya, aku sudah meminta cuti selama dua hari untuk keperluan perjalanan ini. Karena keadaan berubah dan aku terjebak banjir, aku perlu meminta izin tambahan.

Beliau tidak mempermasalahkannya selama tugas ujian tetap terlaksana sebagaimana mestinya. Setelah itu, beliau menanyakan di mana tepatnya aku terjebak. Aku menjelaskan keadaan kami secara rinci, mulai dari posisi kendaraan hingga kondisi yang membuat perjalanan tidak bisa dilanjutkan. Dari percakapan itu, beliau memahami situasi yang sedang kuhadapi.

Ada sedikit kelegaan ketika mengetahui bahwa keadaan ini bisa dimengerti. Namun, persoalan yang sebenarnya tetap sama: kami belum tahu kapan bisa pulang, sementara rumah dan keluarga masih jauh dari jangkauan.

Selepas salat Subuh, aku memberanikan diri meminta izin kepada seorang ibu yang rumahnya berada tepat di deretan toko tempat kami berteduh. Aku hanya ingin menumpang buang air kecil. Ibu itu mempersilakanku menggunakan kamar mandinya dengan senang hati.

Barangkali bagi beliau, itu hanya bantuan kecil. Bagiku, di tengah keadaan yang serba terbatas, kesempatan menggunakan kamar mandi saja sudah sangat berarti. Kami tidak sedang berada di tempat yang biasa kami singgahi. Kami hanya penumpang yang terhenti di perjalanan, mencoba memenuhi kebutuhan paling sederhana sambil menunggu keadaan memungkinkan untuk bergerak lagi.

Tak lama setelah Subuh, listrik mulai padam.

Bang Zefiar terbangun dan bertanya kepadaku terkait posisi kami. Ia ingin memastikan posisi kami sebenarnya. Setelah kujelaskan bahwa kami masih berada di Mereudu, barulah ia menyadari bahwa informasi yang sebelumnya ia sampaikan kepada temannya ternyata keliru. Ia mengira kami sudah berada di Lhokseumawe, padahal perjalanan kami belum juga beranjak dari tempat itu.

Pagi semakin terang, tetapi keadaan di jalan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Mobil penumpang, kendaraan pribadi, truk, dan bus memenuhi jalan raya. Semuanya berhenti, menunggu air surut agar perjalanan bisa dilanjutkan. Kendaraan sebanyak itu tak mampu bergerak maju, sementara kami juga tidak tahu berapa lama harus bertahan.

Sinyal ponsel mulai hilang. Informasi yang bisa kami akses semakin terbatas. Kami tidak tahu bagaimana keadaan jalan di depan, seberapa luas banjir telah meluas, atau kapan jalur yang kami tunggu bisa kembali dilalui.

Informasi terakhir yang sempat kubaca berasal dari grup sekolah. Ada pesan yang meminta para guru menyelamatkan berkas-berkas penting karena air di Bendung Langkahan telah melewati batas aman.

Aku membaca pesan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Di sekolah, orang-orang mulai mengkhawatirkan keselamatan dokumen penting. Di rumah, istriku dan anak-anak sedang berusaha mencari tempat aman. Sementara itu, aku sendiri masih terjebak di jalan, tidak bisa memastikan keadaan keduanya.

Pagi itu terasa panjang. Perut mulai lapar, hujan belum juga berhenti, dan kami tak bisa pergi jauh dari kendaraan. Dalam keadaan seperti itu, Bang Zefiar berinisiatif mencari makanan ke sebuah warung yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat kami berhenti.

Sebelum berangkat, ia menemukan sebuah payung di dalam tasnya. Payung itu merupakan bingkisan yang didapatnya ketika mengisi pelatihan di Jakarta. Barang yang mungkin selama ini hanya tersimpan di dalam tas itu mendadak berguna pada saat yang tepat.

Dengan payung tersebut, Bang Zefiar berjalan menuju warung. Ia membeli beberapa jenis roti dan makanan ringan. Ia juga meminta izin kepada pemilik warung untuk menggunakan kamar kecil. Warung itu sangat ramai, sehingga ia harus mengantre. Namun, selama masih ada tempat yang bisa digunakan, ia tidak mempermasalahkannya.

Ketika kembali ke mobil, beberapa penumpang lain juga mulai mengeluhkan rasa lapar. Mereka ingin membeli makanan, tetapi hujan yang masih deras membuat mereka enggan berjalan menuju warung.

Aku kemudian meminta izin kepada Bang Zefiar untuk meminjamkan payungnya kepada mereka. Ia setuju dengan senang hati. Para penumpang itu tampak tidak menyangka bahwa di tengah keadaan seperti itu ada orang yang membawa payung.

Bang Zefiar menanggapinya dengan gurauan khas yang terasa pas dengan keadaan kami saat itu.

“Sedia payung sebelum hujan.”

Kami sempat memiliki alasan untuk tersenyum. Di tengah hujan yang tak kunjung berhenti, payung kecil itu menjadi sesuatu yang berguna bagi beberapa orang sekaligus. Tak ada yang tahu bahwa sebuah bingkisan dari pelatihan di Jakarta akan menjadi barang yang dicari-cari di tengah perjalanan yang terhenti oleh banjir.

Namun, ada satu hal yang tidak kami perhitungkan: payung itu terus berpindah tangan.

Awalnya, kami meminjamkannya agar penumpang lain bisa membeli makanan. Setelah digunakan seseorang, payung itu berpindah lagi kepada orang lain, tanpa sepengetahuan kami. Ketika akhirnya kami sendiri membutuhkannya, payung itu tak lagi ada di tempat semula.

Aku merasa tidak enak kepada Bang Zefiar. Akulah yang berinisiatif meminjamkan payung tersebut, tetapi kini barang itu justru tak bisa kami gunakan. Orang yang pertama kali kupinjami pun tampaknya tidak merasa bersalah. Mungkin baginya, payung itu hanya berpindah sebentar kepada orang lain. Namun, bagi kami yang tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa menghadapi hujan, kehilangan payung itu menjadi persoalan tersendiri.

Aku berusaha mencarinya. Kutelusuri tempat yang mungkin menjadi lokasi terakhirnya, tetapi payung itu tak juga ditemukan.

Akhirnya, kami menganggapnya hilang.

Sebenarnya, yang membuatku tak nyaman bukan semata-mata soal harga atau bentuk payung itu. Aku merasa bertanggung jawab karena telah mengusulkan agar Bang Zefiar meminjamkannya. Niat kami sederhana, hanya ingin membantu penumpang lain yang juga kelaparan. Kami tak pernah menyangka barang itu akan berpindah tangan begitu saja hingga tak kembali.

Kini, ketika hujan masih turun dan kami kembali membutuhkan payung, aku hanya bisa menyimpan perasaan tak enak itu. Peristiwa kecil tersebut terasa ganjil di tengah keadaan besar yang sedang kami hadapi. Di luar sana, banjir membuat banyak orang kehilangan tempat tinggal dan kesulitan menyelamatkan barang-barang mereka. Sementara kami, yang bahkan belum bisa melanjutkan perjalanan, harus menerima kenyataan bahwa sebuah payung pun bisa hilang di antara orang-orang yang sama-sama sedang kesusahan.

Menjelang siang, hujan yang sejak malam turun deras mulai mereda. Tinggal gerimis kecil yang sesekali membasahi jalan. Kami memutuskan keluar dari mobil untuk mencari warung nasi atau warung kopi, sekadar mengisi perut dan melepas penat setelah berjam-jam menunggu.

Tetapi warung-warung kopi yang kami temui tidak ada yang buka. Hanya ada sebuah warung nasi yang tampak sangat ramai. Orang-orang mengantre untuk mendapatkan makanan.

Awalnya aku ragu untuk ikut mengantre. Perutku sejak sebelum berangkat memang sedang tidak baik-baik saja. Aku juga sudah lelah menunggu dan tak begitu ingin berdiri lama di tengah keramaian. Namun, Bang Zefiar meyakinkanku bahwa kami tetap harus menjaga tenaga.

“Kalau ingin sampai ke tujuan, kita harus tetap kuat. Jangan sampai kelaparan di perjalanan.”

Akhirnya, kami ikut mengantre.

Di tengah keadaan yang serba terbatas, ada satu hal dari penjual warung itu yang membuatku salut. Ia tidak menaikkan harga meskipun banyak orang datang untuk membeli makanan. Ia juga mengingatkan para pembeli agar mengambil secukupnya, supaya semua orang kebagian.

Tak ada pidato panjang tentang kepedulian. Ia hanya berusaha memastikan bahwa makanan yang tersedia bisa dinikmati sebanyak mungkin orang yang sedang membutuhkan. Di tengah situasi ketika banyak hal tak bisa dipastikan, sikap sederhana seperti itu terasa berarti.

Setelah mendapatkan makanan, kami akhirnya bisa mengisi perut. Ada kelegaan tersendiri ketika rasa lapar mulai berkurang. Lebih dari itu, aku merasa sedikit tenang karena perutku tidak berulah lagi. Seolah-olah ia mengerti bahwa saat itu bukan waktu yang tepat untuk kembali membuat masalah.

Kami kembali ke mobil. Di sana, ada kejutan kecil yang tak kami duga: payung kami kembali.

Bang Munawir, sopir Hiace yang membawa kami, rupanya telah membawa nasi untuk para penumpangnya. Ia tidak hanya memikirkan bagaimana membawa kami melewati perjalanan, tetapi juga memperhatikan keadaan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam situasi ketika semua orang sama-sama menunggu dan tidak tahu kapan bisa berangkat lagi, ia tetap berusaha memastikan penumpangnya mendapatkan makanan.

Sikapnya membuatku kembali teringat pada keyakinanku sebelum berangkat. Malam sebelumnya, aku percaya bahwa sopir tentu memahami medan dan akan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dimilikinya. Kini, setelah melihat bagaimana ia bertanggung jawab terhadap para penumpang, aku semakin memahami bahwa ia pun sedang berusaha melakukan yang terbaik dalam keadaan yang tidak mudah.

Hari bergerak menuju sore, tetapi hujan belum juga berhenti sepenuhnya. Kami masih tertahan, dan jalur utama yang semula hendak kami lewati tidak lagi memungkinkan untuk dilalui. Jembatan di jalur itu telah terputus.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Bang Munawir mendapatkan informasi tentang jalur lain yang mungkin bisa dilewati. Kabar itu membuka kemungkinan baru bagi perjalanan kami. Namun, setelah semua yang terjadi sejak malam sebelumnya, kami tahu bahwa menemukan jalur alternatif belum tentu berarti perjalanan akan segera lancar.

Kami hanya bisa menunggu, berharap informasi itu benar dan jalan yang akan kami tempuh benar-benar bisa dilalui.

Untuk pertama kalinya sejak terjebak, ada kemungkinan bahwa kami bisa bergerak kembali. Namun, di belakang kemungkinan itu, masih ada banyak hal yang belum kami ketahui: keadaan rumah, kabar keluarga yang belum tersambung, dan perjalanan panjang yang belum selesai.

Hujan masih turun. Sore semakin dekat. Dan kami kembali menaruh harapan pada sebuah jalan yang belum kami ketahui keadaannya.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *