Jejak yang Tertinggal – Part I

“Setiap pemimpin meninggalkan jejak. Sebagian tertulis pada bangunan yang ia dirikan. Sebagian lagi hidup dalam cara berpikir orang-orang yang pernah dipimpinnya.”

Saya tidak berdiri di barisan paling depan ketika acara itu berlangsung.

Saya memilih duduk beberapa baris di belakang, memperhatikan setiap rangkaian acara yang mengantar berakhirnya masa pengabdian seorang kepala madrasah. Di depan sana, ucapan terima kasih, doa, dan kenangan silih berganti disampaikan. Sesekali terdengar tawa kecil. Sesekali ruangan menjadi hening ketika suara pembicara mulai bergetar menahan haru.

Saya ikut bertepuk tangan.

Saya ikut tersenyum.

Namun yang memenuhi pikiran saya bukanlah acara perpisahan itu.

Yang terus berputar dalam ingatan justru sebuah percakapan sederhana di ruang kepala madrasah, beberapa tahun sebelumnya.

Percakapan yang, tanpa saya sadari, mengubah cara saya memandang kepemimpinan.

Lucunya, sebelum percakapan itu terjadi, saya justru sedang berusaha menjaga jarak dari beliau.

Saya tidak pernah menunjukkan kemarahan secara terbuka.

Tetapi setiap kali bertemu, saya memilih menghindar.

Setiap kali berpapasan, saya berharap beliau tidak mengajak berbicara.

Saat itu saya merasa beliau telah mengambil keputusan yang tidak adil terhadap seorang rekan yang bekerja dengan sepenuh hati.

Saya yakin berada di pihak yang benar.

Dan saya juga yakin beliau sedang keliru.

Hari ini, setelah perjalanan itu selesai dan masa pengabdian beliau resmi berakhir, saya justru tersenyum setiap kali mengingat keyakinan saya waktu itu.

Bukan karena saya menyesal pernah menyampaikan kritik.

Melainkan karena saya akhirnya memahami bahwa mengenal seorang pemimpin tidak pernah cukup hanya dari satu keputusan.

Tulisan ini bukan tentang seorang kepala madrasah yang tidak pernah salah.

Bukan pula tentang seorang bawahan yang selalu benar.

Ini adalah kisah tentang bagaimana waktu mengajarkan saya melihat seseorang secara lebih utuh.

Tentang seorang guru muda yang datang dengan prasangka, tumbuh bersama berbagai peristiwa, lalu pulang membawa pemahaman baru mengenai kepemimpinan.

Dan semua itu berawal dari seorang putra Sigli yang pada tahun 1994 mengawali pengabdiannya sebagai guru di sebuah madrasah kecil bernama MTsN Simpang Ulim—madrasah yang kelak menjadi rumah bagi sebagian besar perjalanan hidupnya.

Ada orang yang menghabiskan masa pengabdiannya dengan berpindah-pindah tempat. Setiap beberapa tahun, mereka mengenal lingkungan baru, rekan kerja baru, dan tantangan baru. Namun ada pula orang-orang yang, sejak langkah pertamanya sebagai guru, seolah telah menemukan rumahnya sendiri.

Drs. H. Saifullah MN adalah salah satunya.

Beliau lahir di Sigli, Kabupaten Pidie. Pada tahun 1994, beliau diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil dan mendapatkan penempatan pertama di MTsN Simpang Ulim, yang kini dikenal sebagai MTsN 1 Aceh Timur. Mungkin pada saat itu tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa madrasah tersebut bukan sekadar menjadi tempat bekerja, melainkan menjadi bagian terbesar dari perjalanan hidupnya sebagai pendidik.

Selama tiga puluh dua tahun empat bulan mengabdi, beliau hanya sekali meninggalkan madrasah itu. Amanah sebagai Kepala MAN Simpang Ulim—yang kini bernama MAN 4 Aceh Timur—membawanya mengemban tugas di tempat lain selama kurang lebih delapan tahun. Selebihnya, beliau kembali ke tempat di mana semuanya dimulai, mengajar, membimbing, dan akhirnya memimpin madrasah yang telah menjadi bagian dari dirinya.

Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti itu.

Mengabdikan hampir seluruh perjalanan karier di satu tempat membuat seseorang tidak hanya mengenal gedung dan halaman sekolah, tetapi juga mengenal denyut kehidupan di dalamnya. Ia melihat murid-murid datang dan lulus silih berganti. Ia menyaksikan guru-guru muda tumbuh menjadi guru senior. Ia mengalami masa-masa ketika madrasah memiliki segala keterbatasan, lalu perlahan berkembang menjadi lembaga yang semakin dipercaya masyarakat.

Barangkali karena itulah, ketika berbicara tentang MTsN 1 Aceh Timur, beliau tidak pernah berbicara seperti seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas. Beliau berbicara seperti seseorang yang sedang merawat rumahnya sendiri.

Pertemuan pertama kami sebenarnya terjadi jauh sebelum beliau menjadi kepala madrasah saya.

Suatu hari, Ibu Khalidah mengajak saya mengikuti sebuah pelatihan di MAN 2 Aceh Timur. Saya menumpang di mobil yang dikendarai beliau. Saat itu beliau masih menjabat sebagai Kepala MAN 4 Aceh Timur.

Perjalanan itu berlangsung tenang.

Saya lebih banyak diam.

Sebagai guru yang masih baru, saya belum memiliki keberanian untuk mengajak berbincang seseorang yang sudah lebih dahulu mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan. Beliau pun tidak banyak berbicara. Sesekali hanya menanyakan hal-hal sederhana tentang perjalanan dan pelatihan yang akan kami ikuti.

Tidak ada percakapan yang istimewa.

Tidak ada kesan yang benar-benar melekat.

Yang saya ingat hanyalah sosok beliau yang tampak tenang, berbicara seperlunya, dan memancarkan wibawa yang membuat saya memilih menjaga sikap.

Dalam hati, saya memberi kesan sederhana kepada beliau.

Dingin.

Tegas.

Sulit didekati.

Kesan itu tidak berubah hingga beberapa waktu kemudian saya mendengar kabar bahwa beliau akan dipercaya memimpin MTsN 1 Aceh Timur.

Seperti biasanya, ruang guru menjadi tempat berbagai cerita beredar. Banyak rekan yang telah lebih lama mengenal beliau mulai menceritakan pengalaman mereka. Ada yang memuji kedisiplinannya. Ada yang mengatakan bahwa beliau adalah pekerja keras. Ada pula yang meyakini bahwa madrasah akan mengalami banyak perubahan di bawah kepemimpinannya.

Saya mendengarkan semuanya.

Tetapi saya memilih menyimpan penilaian saya sendiri.

Saya percaya bahwa mengenal seseorang melalui cerita orang lain tidak pernah sama dengan mengenalnya melalui pengalaman.

Maka saya menunggu.

Dan penantian itu tidak berlangsung lama.

Hari-hari pertama kepemimpinan beliau membawa suasana yang berbeda. Rapat-rapat tidak lagi sekadar membahas rutinitas. Beliau datang dengan berbagai gagasan, mengajak guru-guru memikirkan arah baru bagi madrasah, dan membuka ruang bagi siapa pun yang ingin menyampaikan ide.

Sebagai guru yang masih relatif baru, saya justru merasa memiliki tempat untuk berbicara. Gagasan tidak diukur dari lamanya seseorang mengajar, melainkan dari manfaat yang mungkin diberikannya bagi sekolah. Hal itu menumbuhkan optimisme di kalangan kami. Rasanya, madrasah ini sedang bergerak menuju sesuatu yang lebih baik.

Saat itu saya mulai percaya bahwa cerita-cerita baik yang saya dengar bukanlah sekadar pujian kepada seorang kepala madrasah baru.

Beliau benar-benar ingin membawa perubahan.

Namun, seperti hampir semua perjalanan perubahan, harapan tidak selalu berjalan berdampingan dengan kenyataan.

Tidak lama kemudian, saya menyaksikan sebuah peristiwa yang membuat semua keyakinan itu mulai goyah.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *