Jejak yang Tertinggal – Part II
Saya berjalan menuju ruang kepala madrasah dengan berbagai kemungkinan yang berputar di kepala.
Selama beberapa hari terakhir saya memang sengaja menjaga jarak. Barangkali beliau sudah menyadarinya. Barangkali hari itu saya akan ditegur. Atau mungkin, untuk pertama kalinya sejak menjadi guru di madrasah itu, saya akan benar-benar berhadapan dengan kepala madrasah dalam suasana yang tidak menyenangkan.
Saya mengetuk pintu.
“Silakan masuk.”
Suara beliau terdengar seperti biasanya.
Tenang.
Saya masuk, mengucapkan salam, lalu duduk setelah dipersilakan. Beberapa detik pertama berlalu tanpa percakapan. Beliau membuka beberapa berkas di atas meja, sementara saya menunggu dengan berbagai dugaan yang semakin memenuhi pikiran.
Lalu beliau mengangkat wajah.
“Bagaimana kondisi laboratorium komputer sekarang?”
Saya sempat mengira pertanyaan itu hanya pembuka sebelum beliau membahas hal lain.
Karena itu saya menjawab seperlunya.
Saya menjelaskan beberapa komputer yang mulai bermasalah, jaringan yang belum stabil, serta beberapa fasilitas yang menurut saya sudah waktunya diperbaiki agar proses pembelajaran tidak terganggu.
Beliau tidak menyela.
Beliau mendengarkan hingga saya selesai berbicara.
Sesekali beliau menganggukkan kepala.
Kemudian beliau meraih telepon genggam yang terletak di samping meja. Tanpa banyak berkata-kata, beliau menghubungi seseorang.
“Tolong lihat laboratorium hari ini juga. Ada beberapa yang harus segera diperbaiki.”
Percakapan itu tidak berlangsung lama.
Beliau menutup telepon, lalu kembali menatap saya.
Saya masih diam.
Dalam hati saya bertanya-tanya.
Bukankah saya datang karena dipanggil?
Mengapa justru persoalan yang saya hadapi diselesaikan lebih dahulu?
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Beliau menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Lalu, dengan nada yang tetap tenang, beliau bertanya,
“Belakangan ini saya lihat kamu sering menghindari saya.”
Kalimat itu membuat saya terdiam.
Saya tidak menjawab.
Beliau tidak memaksa.
Beberapa detik berlalu sebelum beliau melanjutkan,
“Kalau memang ada yang ingin disampaikan, sampaikan saja. Saya ingin mendengarnya langsung.”
Entah mengapa, kalimat itu membuat semua benteng yang saya bangun selama ini runtuh begitu saja.
Saya tidak lagi berbicara sebagai bawahan yang sedang menghadap atasan.
Saya berbicara sebagai seseorang yang merasa perlu membela seorang sahabat.
Saya mulai bercerita.
Tentang kerja keras yang telah saya saksikan.
Tentang berbagai program yang berhasil diwujudkan.
Tentang latihan-latihan yang telah dijalani para siswa.
Tentang orang tua yang menyimpan harapan kepada anak mereka.
Dan akhirnya, tentang perasaan saya ketika melihat seorang guru yang telah diberi kepercayaan harus menanggung sendiri akibat dari perubahan keputusan yang terjadi.
Semakin lama saya berbicara, semakin banyak hal yang keluar.
Saya bahkan tidak lagi mengingat urutan kalimat yang saya sampaikan.
Yang saya ingat hanyalah satu hal.
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya sedang mengkritik seorang kepala madrasah secara langsung.
Hari ini, setiap kali mengingat peristiwa itu, saya sering tersenyum sendiri.
Betapa beraninya saya saat itu.
Seorang guru yang usianya jauh lebih muda, dengan pengalaman yang masih sangat sedikit, sedang menjelaskan kepada seorang kepala madrasah tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin memperlakukan bawahannya.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengejutkan daripada keberanian saya.
Beliau mendengarkan.
Tidak sekali pun beliau memotong pembicaraan saya.
Tidak ada kalimat yang bernada membela diri.
Tidak ada usaha untuk menunjukkan bahwa beliau adalah atasan dan saya hanyalah seorang guru.
Beliau membiarkan saya menyelesaikan seluruh isi hati yang selama ini saya simpan.
Ruangan itu hening.
Beliau menundukkan kepala beberapa saat.
Kemudian berkata pelan,
“Mungkin memang ada yang luput dari perhatian saya.”
Hanya itu.
Tidak panjang.
Tidak dramatis.
Tetapi kalimat sederhana itu mengubah suasana ruangan.
Beliau tidak mencari kambing hitam.
Tidak menyalahkan keadaan.
Tidak pula menyalahkan orang lain.
Beliau memilih memulai dengan mengevaluasi dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian saya mengetahui bahwa beliau telah menemui rekan saya.
Beliau meminta maaf.
Bagi sebagian orang, permintaan maaf mungkin hanya rangkaian kata yang mudah diucapkan.
Namun bagi saya, itu adalah salah satu bentuk keberanian yang paling sulit dimiliki seorang pemimpin.
Hari itu saya pulang dengan perasaan yang sangat berbeda ketika saya datang.
Saya datang membawa keyakinan bahwa saya sedang menghadapi seorang kepala madrasah yang keras.
Saya pulang setelah bertemu dengan seorang manusia yang tidak merasa kehilangan wibawanya hanya karena bersedia mendengarkan kritik dari guru yang jauh lebih muda.
Baru pada hari itulah saya mulai memahami satu hal.
Wibawa tidak lahir dari jabatan.
Wibawa lahir dari kerendahan hati untuk terus belajar, bahkan dari orang yang kita pimpin.
Sejak percakapan di ruang kepala madrasah itu, ada satu kebiasaan baru yang tanpa sadar saya lakukan.
Saya mulai lebih banyak mengamati.
Bukan lagi mengamati bangunan yang terus bertambah atau program-program yang bermunculan, melainkan cara beliau memperlakukan orang-orang di sekelilingnya.
Barangkali selama ini saya terlalu sibuk menilai keputusan-keputusannya hingga lupa memperhatikan bagaimana keputusan itu lahir.
Dan dari situlah saya menemukan sesuatu yang menarik.
Ternyata, saya dan beberapa rekan guru sedang melihat orang yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda.
Suatu hari, seorang guru senior bercerita bahwa ia baru saja dipanggil ke ruang kepala madrasah. Wajahnya masih menyimpan kegelisahan, ketakutan dan kecemasan yang berlebih. Saya bertanya bagaimana pertemuan itu berlangsung.
“Alhamdulillah tidak dimarahi,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
Jawaban itu justru membuat saya heran.
“Kalau tidak dimarahi, mengapa Ibu terlihat begitu tegang sejak tadi?”
Beliau hanya tertawa kecil.
“Sudah telanjur takut duluan.”
Percakapan sederhana itu terus teringat dalam benak saya.
Belakangan saya menyadari bahwa beliau bukan satu-satunya.
Ada beberapa guru yang memilih menitipkan usulan atau keluhan melalui saya dan beberapa rekan lain. Alasannya hampir selalu sama. Mereka merasa lebih nyaman jika ada orang lain yang menyampaikan.
Saya sering berkata kepada mereka,
“Cobalah sampaikan sendiri. Pak Kepala pasti mau mendengarkan.”
Namun mereka hanya menggeleng sambil tersenyum.
Bagi mereka, bertemu langsung dengan kepala madrasah tetap menjadi sesuatu yang membuat jantung berdegup lebih cepat.
Pengalaman saya justru berbeda.
Setelah percakapan di ruangannya, saya tidak lagi melihat beliau sebagai sosok yang sulit didekati. Saya mulai memahami bahwa wajah beliau memang tampak tegas, tetapi cara beliau mendengarkan jauh lebih lembut daripada yang saya bayangkan.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.
Mengapa kami melihat orang yang sama dengan cara yang berbeda?
Semakin lama saya mengamati, semakin saya menemukan jawabannya.
Beliau memang memiliki standar yang tinggi.
Beliau tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan asal selesai. Beliau juga tidak pernah menganggap kebersihan lingkungan sebagai perkara kecil. Beberapa kali saya melihat beliau berhenti hanya karena menemukan halaman yang belum rapi atau sudut madrasah yang kurang terawat.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya persoalan daun yang belum disapu atau pot bunga yang tidak tersusun rapi.
Namun saya mulai memahami bahwa yang sedang beliau jaga bukan sekadar kebersihan.
Beliau sedang membangun budaya.
Sebuah madrasah yang bersih mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap lingkungan yang ia tempati. Sebaliknya, ketika lingkungan mulai diabaikan, biasanya rasa memiliki ikut memudar.
Karena itulah beliau tidak pernah membiarkan hal-hal kecil berlalu begitu saja.
Menariknya, saya hampir tidak pernah melihat beliau menegur guru di depan banyak orang.
Jika ada kekeliruan, beliau lebih sering memanggil yang bersangkutan ke ruangannya. Di sanalah pembinaan dilakukan. Kritik disampaikan tanpa harus menjatuhkan harga diri orang yang menerimanya.
Saya kemudian teringat pada percakapan kami beberapa waktu sebelumnya.
Mungkin inilah sebabnya beliau lebih memilih berbicara empat mata ketika saya menyimpan keberatan terhadap sebuah keputusan. Beliau tidak sedang mempertahankan kewibawaan. Beliau sedang menjaga martabat.
Namun ada sisi lain yang tidak kalah menarik.
Setelah seseorang diberi amanah, beliau justru memberikan ruang yang luas untuk bekerja.
Saya merasakan sendiri bagaimana ide-ide baru diterima tanpa melihat siapa yang mengusulkannya. Guru yang masih muda maupun yang sudah senior memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan. Jika sebuah program dinilai baik bagi madrasah, beliau akan berusaha mencari jalan agar program itu dapat dijalankan.
Kepercayaan itu perlahan mengubah suasana kerja.
Guru-guru mulai berani mengusulkan kegiatan yang sebelumnya hanya disimpan dalam kepala. Mereka tidak lagi sekadar menunggu perintah, tetapi mulai datang membawa gagasan.
Saya menyaksikan perubahan itu dari dekat.
Ruang guru yang dahulu lebih banyak dipenuhi percakapan tentang rutinitas, perlahan berubah menjadi tempat lahirnya berbagai rencana baru. Kami mulai berdiskusi tentang lomba, pembelajaran, inovasi, hingga bagaimana membuat peserta didik lebih bangga terhadap madrasahnya sendiri.
Perubahan terbesar ternyata bukan terjadi pada gedung-gedung yang berdiri.
Perubahan terbesar terjadi pada keberanian orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika saya melanjutkan studi dan mempelajari teori kepemimpinan, saya menemukan pemikiran Douglas McGregor tentang Teori X dan Teori Y.
Saat membaca teori itu, ingatan saya justru kembali kepada sosok beliau.
McGregor menjelaskan bahwa ada pemimpin yang lebih mengandalkan pengawasan, disiplin, dan kontrol untuk memastikan pekerjaan berjalan sebagaimana mestinya. Di sisi lain, ada pula pemimpin yang percaya bahwa manusia akan berkembang ketika diberi kepercayaan, kesempatan, dan ruang untuk bertanggung jawab.
Banyak orang memahami kedua pendekatan itu seolah-olah harus dipilih salah satunya.
Pengalaman saya berkata lain.
Saya melihat keduanya hidup dalam diri orang yang sama.
Ketika standar harus dijaga, beliau mampu bersikap tegas.
Ketika seseorang telah dipercaya, beliau memilih memberi ruang untuk bertumbuh.
Barangkali di situlah saya memperoleh pelajaran yang paling berharga.
Teori membantu kita memahami kepemimpinan.
Tetapi pengalaman mengajarkan bahwa manusia tidak pernah dapat dijelaskan sepenuhnya oleh teori.
Seorang pemimpin yang baik bukanlah mereka yang setia kepada satu pendekatan.
Melainkan mereka yang tahu kapan harus bersikap tegas, dan kapan harus mempercayai orang lain untuk bertumbuh.
Meski cara pandang saya terhadap beliau mulai berubah, bukan berarti setelah itu saya selalu sepakat dengan setiap keputusan yang beliau ambil.
Hubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpin tidak pernah sesederhana kisah yang selalu berakhir bahagia.
Ada kalanya kita memahami seseorang.
Ada kalanya kita kembali dibuat kecewa.
Dan saya pernah berada di titik itu.
Bersambung …
