Part VII – Healing dari Langit

Hujan kembali menguat ketika kami masih berada di tengah-tengah banjir. Dari dalam mobil, rumah-rumah warga, kendaraan, dan harta benda di sekeliling kami tampak terendam. Jalan rel yang biasanya membentang di antara hamparan sawah kini kehilangan bentuk aslinya. Sawah-sawah itu tak lagi terlihat. Sejauh mata memandang, yang ada hanya air. Rasanya seperti sedang melintasi lautan yang tiba-tiba hadir di tengah daratan.

Di dalam Hiace, tak seorang pun benar-benar bisa merasa tenang. Ada banyak kemungkinan buruk yang terus terlintas. Mesin bisa saja mendadak mati, seperti kendaraan lain yang kami lihat sebelumnya. Mobil juga bisa terseret arus jika pengemudi kehilangan kendali. Dalam keadaan seperti itu, kami hanya bisa berharap Bang Munawir mampu membawa kendaraan melewati genangan dengan selamat.

Malam semakin gelap. Lampu kendaraan menjadi satu-satunya penerang di tengah banjir. Di beberapa titik, tampak warga mendorong mobil yang mogok atau terhenti di dalam air. Pengendara sepeda motor pun mengalami hal serupa. Ada yang berusaha melewati genangan, ada pula yang harus turun dan mendorong kendaraannya sendiri. Jalan yang semestinya menjadi penghubung antarkampung malam itu berubah menjadi tempat orang-orang berjuang agar bisa bergerak beberapa meter saja.

Entah berapa lama kami berada dalam keadaan menegangkan itu. Namun, perlahan, Hiace yang kami tumpangi akhirnya berhasil melewati bagian banjir tersebut. Mobil kembali berjalan sebagaimana mestinya. Untuk sesaat, kami merasa seolah-olah rintangan besar telah terlewati. Dalam bayangan kami, perjalanan tinggal dilanjutkan sampai tujuan.

Akan tetapi, harapan itu rupanya terlalu cepat tumbuh.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil kembali melambat hingga akhirnya berhenti. Kemacetan panjang menghadang di depan. Informasi dari warga sekitar menyebutkan bahwa genangan di bagian berikutnya jauh lebih tinggi daripada yang baru saja kami lewati. Mobil penumpang tidak mungkin melintas. Hanya truk-truk berukuran besar yang masih bisa mencoba menerobosnya, itu pun sangat bergantung pada kemampuan sopir mengendalikan kendaraan.

Bahkan warga yang sebelumnya berani berada di dalam air atau membantu kendaraan melintas kini tak lagi melakukannya. Ketinggian air sudah lebih dari satu meter. Tak ada alasan untuk memaksakan diri menghadapi arus sebesar itu.

Bang Munawir kemudian menepikan mobil di pinggir jalan yang membelah area persawahan. Beberapa penumpang memutuskan turun untuk buang air kecil. Di sekitar tempat kami berhenti, hanya tampak satu rumah besar. Karena suasananya sangat gelap, awalnya kami mengira rumah itu tidak ditempati atau belum menjadi tempat singgah para penyintas.

Namun, ketika mendekat, kami justru terkejut. Rumah tersebut ternyata ramai oleh warga dan para penyintas yang lebih dahulu mencari perlindungan. Melihat keadaan itu, aku dan Bang Zefiar memilih mencari tempat lain.

Ada satu kejadian kecil yang sampai sekarang masih kuingat. Ketika keluar dari mobil, hujan hanya berupa gerimis. Namun, begitu kami tiba di tempat untuk buang air kecil, hujan mendadak turun deras. Kami pun harus buru-buru menyelesaikannya sebelum benar-benar basah kuyup. Di tengah situasi yang serba sulit, kejadian sederhana seperti itu justru terasa lucu jika diingat kembali.

Kami kembali ke mobil dan bertahan di sana sekitar dua puluh menit. Tidak ada informasi baru mengenai keadaan jalan di depan. Hanya kendaraan yang terus mengantre dan air yang belum juga surut.

Beberapa warga kemudian menghampiri kami dan meminta agar mobil dipindahkan. Awalnya kami mengira keberadaan kendaraan kami mengganggu mereka. Namun, ternyata maksud mereka berbeda. Mereka justru menyarankan agar kami mencari tempat yang lebih aman. Menurut mereka, tidak jauh dari sana, setelah melewati sebuah persimpangan, terdapat lokasi yang lebih layak untuk singgah. Di sana ada warung dan rumah-rumah warga yang bisa menjadi tempat berteduh.

Daripada terus bertahan di tengah persawahan tanpa kepastian, kami mengikuti saran tersebut.

Tempat yang dimaksud ternyata berupa pasar kecil dan perkampungan. Malam itu, aku memperhatikan bahwa mobil-mobil penumpang diperbolehkan berada di sana, sedangkan truk tidak. Barangkali karena truk dianggap masih mampu melewati genangan, sementara keberadaannya di lokasi tersebut dapat mengganggu lalu lintas warga. Tempat itu bukan sekadar lokasi untuk menunggu, melainkan juga ruang yang harus tetap digunakan oleh masyarakat setempat.

Setelah memastikan bahwa tempat tersebut cukup aman untuk singgah, beberapa penumpang mulai turun mencari makanan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam. Sejak makan siang tadi, kami belum mengisi perut lagi.

Sebenarnya aku enggan turun. Kondisi perutku belum sepenuhnya stabil, sementara pikiran tentang keluarga di rumah terus mengganggu. Aku masih belum mendapat kabar yang menenangkan. Namun, Bang Zefiar yang baru kembali dari warung menyampaikan sesuatu yang sedikit melegakan. Katanya, ada kamar mandi kecil tepat di belakang warung yang bisa kami gunakan. Pemilik warung dan warga sekitar memperbolehkan para penyintas memakainya. Hanya saja, karena fasilitas itu satu-satunya yang tersedia, semua orang harus saling memahami dan bergantian.

Aku akhirnya turun untuk membeli air minum sekaligus memastikan sendiri tempat yang dimaksud. Ada rasa lega ketika mengetahui kamar mandi itu memang bisa digunakan. Hanya saja, untuk keperluan air, kami harus menampung air hujan.

Aku juga mencoba mengirim pesan kepada istri dan ayah untuk memberitahukan posisi kami. Namun, pesan itu tak kunjung terkirim. Sinyal masih menjadi persoalan, sementara baterai telepon genggamku sudah habis. Di saat seperti itu, komunikasi terasa jauh lebih berharga daripada biasanya. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa kami masih dalam perjalanan dan sedang berusaha mencari tempat yang aman.

Lagi-lagi, Bang Zefiar punya sesuatu yang tak terduga di dalam tasnya. Kali ini sebuah power bank. Benda itu ternyata ia dapatkan ketika mengikuti pelatihan di Jakarta. Namun, selama ini hampir tidak pernah digunakan karena tas yang dibawanya adalah tas yang belum pernah ia buka lagi sejak pelatihan tersebut. Aku pun meminjamnya untuk mengisi daya telepon genggam.

Malam semakin larut. Setelah melewati perjalanan panjang, menghadapi banjir, dan menunggu tanpa kepastian, tubuhku akhirnya menyerah pada rasa lelah. Sekitar pukul dua belas malam, aku memilih tidur. Bukan karena keadaan sudah benar-benar aman, melainkan karena tak banyak lagi yang bisa dilakukan selain beristirahat sambil menunggu kabar dan berharap keadaan segera membaik.

Malam itu kami melewati waktu di tempat persinggahan yang sama. Di luar, hujan masih turun meskipun sesekali hanya berupa gerimis. Kendaraan para penyintas terus berdatangan dan mengambil ruang yang tersedia. Sementara itu, kami beristirahat di dalam mobil, mencoba memulihkan tenaga untuk perjalanan yang entah kapan bisa dilanjutkan.

Aku baru tersadar kembali ketika waktu sudah memasuki subuh. Setelah semalaman beristirahat, keadaan di sekitar kami ternyata jauh berbeda. Tempat yang semalam masih terasa cukup lapang kini dipenuhi mobil-mobil milik para penyintas. Kendaraan berjejer di berbagai sisi, sebagian datang sejak malam dan sebagian lainnya mungkin baru tiba menjelang pagi. Tempat singgah itu semakin ramai, tetapi keadaan banjir di luar sana belum juga memberi kepastian.

Pagi harinya, Bang Zefiar mengajakku mencari makanan. Kami mendapati hanya ada satu tempat penjual nasi yang buka, dengan antrean cukup panjang. Melihat barisan orang yang menunggu, aku memilih mengurungkan niat. Namun, Bang Zefiar tidak ikut mundur. Ia tetap bergabung dalam antrean.

Entah bagaimana caranya, ia justru berhasil mendapatkan nasi dalam waktu relatif singkat. Ketika kembali, ia menyerahkan sebungkus nasi kepadaku.

Katanya, tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak makan. Kamar mandi sudah tersedia, dan sejak kemarin ia memperhatikan perutku tidak lagi banyak mengeluh. Aku menerima nasi itu dengan rasa terima kasih. Perhatian sederhana seperti itu terasa berarti ketika keadaan sedang tidak mudah.

Sambil bercerita, Bang Zefiar menjelaskan bagaimana ia bisa mendapatkan nasi secepat itu. Ia juga menyampaikan kekagumannya kepada penjual nasi yang tetap mempertahankan harga meskipun keadaan sedang sulit. Warung-warung di sekitar lokasi pun berusaha melayani para penyintas. Memang ada beberapa makanan yang harganya naik, tetapi menurut pengamatanku masih dalam batas yang wajar. Tak lama kemudian, Bang Munawir juga datang membawa makanan untuk penumpang lainnya.

Hujan belum juga berhenti. Hanya intensitasnya yang sesekali berkurang. Aku kemudian duduk berbaur dengan para penyintas dan warga setempat. Dari percakapan mereka, banyak informasi yang kudapatkan. Ada yang membicarakan kondisi sinyal telepon genggam, keadaan wilayah sekitar, jalur-jalur alternatif, hingga kesulitan yang mereka hadapi karena tidak ada petugas di lokasi banjir.

Di sela-sela percakapan itu, perhatianku tertuju pada sebuah warung yang menjual air isi ulang. Beberapa penyintas tampak membelinya untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga mereka. Pemandangan itu membuatku teringat bahwa kebutuhan selama berada di tempat pengungsian bukan hanya makanan. Air bersih pun menjadi sesuatu yang harus dipikirkan.

Tak lama kemudian, Bang Zefiar mengeluhkan rasa gerah. Sudah dua hari kami belum mandi. Kamar mandi kecil di belakang warung memang bisa digunakan, tetapi persediaan airnya sudah tidak ada lagi. Kami biasanya menampung air hujan untuk keperluan itu. Sayangnya, hujan kini hanya turun sebagai gerimis sehingga tak cukup untuk mengumpulkan air.

Melihat beberapa penyintas membeli air isi ulang di warung tadi, aku menyarankan Bang Zefiar membeli air yang sama. Harganya juga tidak terlalu mahal. Ia pun beranjak ke warung untuk membelinya.

Namun, ketika sampai di sana, air isi ulang yang biasa dibeli ternyata sudah habis. Yang tersisa hanya air isi ulang bermerek. Tanpa banyak pertimbangan, Bang Zefiar tetap membelinya. Ia kemudian menggunakan air tersebut untuk mandi.

Setelah selesai, ia kembali dengan gurauan yang membuatku tertawa. Katanya, mandi kali ini terasa seperti menteri yang sedang mandi. Barangkali karena air yang digunakan bukan lagi air isi ulang biasa, melainkan air bermerek yang harganya lebih mahal.

Aku tertawa mendengar ucapannya. Namun, berbeda dengannya, aku tetap tidak tertarik untuk mandi. Persediaan pakaian yang kami bawa memang hanya cukup untuk beberapa hari. Sementara itu, pakaian yang tersisa di dalam tas sudah merupakan pakaian kotor yang kami gunakan sebelumnya. Jadi, meskipun ada kesempatan untuk mandi, aku memilih menundanya.

Di tengah ketidakpastian itu, warga saling memberi kabar dan membantu satu sama lain. Mereka berusaha mencari jalan yang masih bisa dilalui, memberi tahu bagian mana yang berbahaya, dan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Tidak banyak pilihan yang tersedia. Mereka hanya bisa mengandalkan informasi yang didapat dari orang-orang di sekitar.

Menjelang sore, beberapa mobil penumpang mulai berhasil menerobos banjir. Namun, Bang Munawir masih tampak ragu. Ia teringat seorang temannya sesama sopir Hiace yang semalam berada di belakang kendaraan kami. Mobil temannya itu mengalami kendala dan tidak bisa lagi berjalan setelah melewati banjir.

Bang Munawir sempat memilih mundur untuk mencoba kembali menyeberangi banjir. Namun, warga sekitar memberi tahu bahwa ada jalur alternatif lain. Jalan tersebut memang masih tergenang, tetapi ketinggian airnya tidak separah jalur utama. Hanya ada satu persoalan: jalannya sangat kecil dan sempit.

Bang Munawir mempertimbangkan keadaan itu sebelum akhirnya memutuskan menggunakan jalur alternatif tersebut. Sebelum berangkat, ada hal lain yang tampaknya mengusik pikirannya. Salah satu ban mobil sedikit kempes. Ia menyadarinya, tetapi karena kendaraan masih bisa berjalan, ia memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati.

Perlahan, Hiace mulai bergerak menuju jalan sempit itu. Kami kembali meninggalkan tempat persinggahan yang sejak malam sebelumnya menjadi tempat berteduh. Di hadapan kami terbentang jalur lain yang belum kami ketahui keadaannya.

Kami hanya bisa berharap keputusan kali ini membawa kami lebih dekat ke tujuan.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *